Thursday, December 20, 2007

TIGA MENIT LEPAS KULIT

Seharian tadi sibuk ngurusin kurban. Ya, seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu kedapuk jadi panitia. Tugasnya, tak jauh-jauh dah, jadi carik. Kesibukan sebenarnya sudah mulai terasa sejak malam takbiran. Karena saya harus menyiapkan name tag panitia dan hewan kurban.

Memang kambing kurban di kompleks saya memang naik pangkat. Sebelum dan sesudah disembelih, dikalungi name tag. Smile. Maksudnya, sih biar tidak tertukar. Ohh ya… tahun ini jumlah hewan kurban, kambing 42 sapi 3. Cukup besar untuk kompleks yang dihuni sekitar 125 KK.
Untuk menyembelih 45 hewan tersebut panitia hanya mempekerjakan 3 tenaga ahli yang khusus menguliti. Dia lah Pak Nono (tanpa K ya?) dkk yang didatangkan dari Wonosobo. Mereka datang bersama kambing-kambing pesanan warga. Pak No, memang sudah menjadi langganan warga kami untuk urusan kambing dan sapi. Rombongan ini selalu muncul tiap menjelang lebaran haji. H-3 mereka biasanya sudah datang beserta “rombongan” embeknya. Nah, begitu datang, warga langsung memilih pesanannya.
Sebagai upah menguliti, Pak No, hanya minta kulit dan kepala kambing dan sapi. Katanya, kulit kambing saat lebaran haji ini hanya laku Rp 10 ribu (entah dia bohong atau tidak). Sedangkan skin sapi dihargai Rp 125 ribu.
Tadi iseng-iseng menghitung berapa lama Pak No, menguliti kambing sampai mengeluarkan “dalemannya”. Dengan modal stopwatch di HP, ternyata Pak No bisa menyelesaikan dalam waktu 3 menit! Wah, hebat bener ya? Dengan catatan, kambing yang jadi “korban” kambing kelas A (artinya bersarnya menengah)
Jadi kepikiran, menyeset alias menguliti bisa dilombakan. Apalagi jika dalam jumlah banyak plus hadiah besar. Sekarang kan, lomba aneh-aneh. Megangin mobil saja, dilombakan. Dan saya tentu menjagokan, Pak No. Sayang lomba demikian jarang yang melirik. Mungkin karena pesertanya pasti wong cilik. Sampai ketemu tahun depan, Pak No.
Posted by CAK KRIS at 16:36:05 | Permalink | No Comments »

Tuesday, November 20, 2007

MENGKADALI KOLEKTOR BENDA BERSEJARAH

Ironi Sebuah Museum”. Itulah tajuk berita di halaman depan Kompas edisi Selasa 20 November.  Diberitakan, seorang pria sepuh bernama KRH Darmodipuro (69) terpaksa harus meringkuk di penjara. Kepala Museum Radya Pustaka di Solo ini, ditahan terkait dengan raibnya sejumlah koleksi musem tersebut. Untuk mengelabui pihak-pihak terkait, dibuatlah ”replika” alias tiruannya. Sementara koleksi yang asli dijual dengan harga puluhan juta rupiah. 

Modus seperti ini konon bukan barang baru. Maklum banyak permintaan entah kolektor dalam maupun luar negeri akan barang-barang bernilai sejarah. Nah, pihak-pihak yang bersinggungan dengan aset-aset tak ternilai harganya ini akhirnya hatinya goyah akibat iming-iming segepok uang. Ditambah keamanan yang begitu ”longgar’.

Saya jadi teringat cerita teman yang sejak sarjana muda hingga sekarang yang ngurusin benda–benda bersejarah. Dulu ia sering kedatangan tamu yang membawa arca lumutan. Sang tamu minta ”diperiksa” apakah arca yang ”ditemukan” di rumpun bambu itu asli atau arca buatan sekarang. Setelah diperiksa ternyata itu arca buatan pemahat-pemahat muntilan. Arca temuan sang tamu itu sengaja dijejerkan dengan beberapa arca asli yang sedang direstorasi di halaman kantor sang teman. Setelah potret sana-sini, akhirnya sang tamu pamit.

Kejadian itu, kata sang teman, kerap terulang. Ia pun curiga, kenapa banyak orang kerap ”memeriksakan” keaslian acra temuannya. Konon, ada teknik sederhana untuk memeriksa apakah arca itu buatan lama atau baru. Tinggal ”lukai” sedikit arca. Amati ”lukanya” di dalamnya, akan ketahuan batu sekarang atau batu zaman dulu. Kalau sekadar ingin mengetahui, kenapa harus capek-capek membawa arca ke kantor teman saya itu.

Usut punya usut ternyata itu hanya akal bulus. Rupanya, ia sengaja membuat arca menyerupai di candi-candi yang bersejarah itu. Setelah selesai, ia sengaja memblusukkan arca itu beberapa bulan di rerumpunan bambu. Biar kelihatan lumutan dan ”usang”. Setelah itu, pura-pura diperiksakan ke dinas yang berwenang. Sebenarnya tujuan memeriksakan itu hanya untuk memfoto arca itu seakan-akan koleksi kantor teman saya itu. Setelah itu baru dijual dengan harga ”arca yang punya nilai sejarah”. Tentu harganya bisa berlipat-lipat dibanding arca pahatan seniman Muntilan.  Cerdik juga ini orang…..

Posted by CAK KRIS at 07:41:20 | Permalink | No Comments »

Thursday, August 30, 2007

KERJA SAMA,TAK SEKADAR SAMA-SAMA KERJA

Hari ini dapat cerita dari teman. Gile…gw kerja sesuai target yang ditetapkan, tetap saja hasilnya tak sesuai rencana. Saya memaklumi keluh kesan teman tersebut. Maklum, dia memang dituntut menyelesaikan tugas tersebut yang normalnya diselesaikan 6 hari kerja menjadi setengahnya. Artinya, beban dua kali lipat. Ehhh…di ujungnya, ada unit lain yang tak seirama. Ya, sudah, kerja mati-matian-nya (biar lebih heroik gitu, lo) ternyata hasilnya sia-sia.
Gw jadi inget outbond dengan teman-teman di Situ Gunung beberapa tahun lalu. Ada satu program di mana kita harus berjalan dengan terompah panjang untuk 8-9 orang. Setiap langkah harus kompak. Ada satu teman yang jatuh, harus diulang dari start. Wah itu yang membuat peserta frustasi. Tapi dari atraksi itu kami menyadari bahwa kerja sama itu tidak hanya kerja sama-sama. Tapi juga harus memahami rekan kita. Saat rekan punya kekurangan, kita harus bisa menutupnya. Saat teman lain punya kelebihan, kita harus bisa memanfaatkan potensi itu. Memang tak mudah. Tapi akan lebih susah jika kita hanya memikirkan pekerjaan kita sendiri.
Foto diambil dari: www.sekolah.mmu.edu.my

Posted by CAK KRIS at 13:19:37 | Permalink | No Comments »

Tuesday, August 14, 2007

SURAT UNTUK SAHABAT

Ini surat untuk dua temanku, yang menurut saya rawan bisa tergelincir ke hal yang gw tulis di bawah ini.
Enggak tahu, gw kok kepikiran terus dengan kejadian tapi pagi. Ketika saya menelepon seorang petinggi di perusahaan besar. Yang menerima anak buahnya. “Wah, Beliau sedang ke luar, mencari barang di xxxxx. Telepon ke HP-nya saja.”
Sudah beberapa kali saya mendapat jawaban seperti itu. Oh…. saya jadi berpikir, si Bos ini sedang cari barang atau punya toko. Kok setiap kali ditelepon dan gak ada di tempat, kata anak buahnya dia sedang di tempat itu.
Tapi bukan itu yang membuat saya resah. Toh banyak bos yang kerjanya di luar rumah, meski ada tugas ngawasin kerja anak buahnya di kantor. Apalagi, saya bukan yang menggaji Bos itu. Sayajustru kasihan dengan “kebohongan” berulang-ulang yang dilakukan oleh anak buah bos tersebut. Kenapa saya bilang itu kebohongan, karena saya yakin si anak buah itu tahu bahwa bos -nya tidak berada di tempat yang diomongkan. Saya juga tahu bahwa omongan si anak buah itu tidak benar, karena setiap saya hubungi HP si Bos, suasana yang tertangkap bukan di sebuah tempat umum.
Nah kenapa gw resah? Saya kasihan pada si anak buah. Mungkin dia merasa tidak salah berkata demikian. Tapi apa yang diucapkan ke orang lain itu sebuah ketidakbenaran. Apakah sebuah ketidakbanaran=kebohongan? Saya enggak tahu jawabannya. Tapi jika kelak, ucapan itu “dicatat” menjadi sebuah kebohongan, alangkah “meruginya” si anak buah itu. Di agama apapun, sebuah kebohongan pasti akan dicatat negatif. Padahal dia melakukan untuk menutupi si bos, entah disuruh atau tidak, sadar atau tidak. Dia pun tak mendapat untung apa-apa. Bahkan mungkin tindakannya itu, enggak ada pengaruhnya dnegan kenaikan prestasi atau gaji. Nah kalau kelak, setelah semua raga tanpa sisa, dan kelakuan di dunia itu dihitung negatif, ah betapa ruginya dia.
Saya nulis ini tak ada tujuan apa-apa. Cuma tak ingin XXXXXX dan XXXX, jadi orang-orang yang merugi seperti anak buah si Bos itu. Hidup memang seperti meniti buih. Kita harus bisa memilih, buih mana yang kuat kita injak.
Posted by CAK KRIS at 12:35:21 | Permalink | Comments (1) »

Friday, August 10, 2007

CAPEKNYA NGIKUTI IRAMA ORANG

Hari ini hari perdana pertandingan futsal di kantor. Karena digelar di lapangan sendiri,  penonton bludak. tidak seperti tahun lalu yang digelar di lapangan luar kantor. Mendadak semua karyawan berpakaian olah raga. aha…oke juga. Kebersamaan jadi terasa. Aneka seragam warna-warni bertebaran di mana-mana. Rata-rata masih baru dan masih banyak yang bau plastik. kebanyakan sih, beli jadi. Makanya jangan heran ada dua seragam tim yang sama. Sama persis!

Hari ini tim gw lawan melawan umum. Melihat postur tubuh lawan yang aduhai besarnya saja sudah MBAU alias malas banget tauuuk…… Tapi harus bagaimana, harus dilawan dan dikalahkan. Mereka rata-rata para pemain sepakbola. Tendangannya jederrr…………..betapa kerasnya. Makin males aja kan? Permainan juga cenderung cepat. Satu dua sentuhan, langsung ditendang ke gawang. Untung kiper gw jagoan. Kalau tidak, entah berapa kali ia harus memungut bola.

Anehnya, tim gw kok, jadi ikut-ikutan atau terbawa permainan lawan. Meski hanya sekejap main, gw ngerasa capek banget ngikutin grudak-gruduk dari depan ke belakang. Teknik ini sangat beda saat kita latihan yang bisa oper-operan dari kaki ke kaki hingga akhirnya masuk ke mulut gawang. Gw sampai teriak-teraiak, agar teman-teman bermain cantik saja dulu. Urusan kalah menang belakangan.

Memang capek banget ngikuti irama orang lain. Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari. Ketika teman, tetangga atau kerabat mempunyai hobi ini, kita ikut-ikutan. Ketika orang lain membeli sesuatu kita juga punya nafsu menyamai. Ketika tetangga renovasi rumah, kita juga pengen ikut-ikutan. Kalau semua diikuti apa enggak capek? Pengen tenang dan nyaman, ya jadilah diri sendiri. Berjoget dengan irama yang kita suka. Kalau ngikuti irama orang lain, ya…capek deh………..

Posted by CAK KRIS at 22:40:43 | Permalink | No Comments »

Friday, August 3, 2007

KETIKA HIDUP SALAH UKURAN

Pagi tadi Si Mas protes. Sepatu olahraganya mulai kesempitan. ”Sudah enggak enak Yah! Jempol ketekuk, nih.” Kupijit-pijit ujung sepatunya. Memang kelihatannya jempol sudah mentok ke ujung sepatu. Saya bisa merasakan, memang tidak enak memakai sepatu kesempitan. Enggak nyaman! Karena memang tidak ada pilihan lain, Si Mas tetap saja memakai sepatu yang kesempitan. ”Oke, besok Minggu Ayah beliin deh,” janjiku.

Waktu kecil saya juga sering memakai sepatu tidak sesuai ukuran. Ayah saya kalau membelikan sepatu pasti nomornya di atas ukuran kaki saya. Alasannya, ”ngundurin gede.” Artinya saat kaki tambah panjang, sepatu jadi pas di kaki. Jadi ”umur ”sepatu, jadi lebih panjang. Makanya saat enak-anaknya memakai (karena ukuran sepatu pas dengan ukuran kaki), kondisi sepatu sudah bulukan.

Jika sepatu kebesaran, solusi yang paling gampang adalah menganjal dengan kain atau kertas dan tali sepatu harus diikat kuat-kuat. Jika tidak, saat dipakai menendang bola, sepatu bisa ikut melayang.

Kadang dalam menjalani hidup kita sering dihadapkan pada sesuatu yang tak sesuai dengan ukuran kita. Saat mulut kita pengen diam, tiba-tiba kita kedatangan tamu atau duduk bareng orang yang cerewetnya minta ampun. Saat kita merasa pas berkarier di bidang ini, ternyata yang didapat profesi lain. Akankah ”sepatu” yang kita dapat, langsung kita tanggalkan?

Hidup memang tidak selalu pas. Pas sesuai takaran kita. Tapi meski kekurangpasan itu bikin hidup kita tidak enak, kita harus berusaha untuk menikmati. Ya, kalau tidak, rasa sakit akan makin bertambah. Yang penting, jangan memaksakan diri. Kalau sudah menyiksa, ya tinggalkan. Toh hidup ini sebuah pilihan. Lalu siapa yang mengarahkan? Silakan tengok ke dada masing-masing.

Foto diambil dari www.mg.alibaba.com

Posted by CAK KRIS at 13:46:57 | Permalink | No Comments »

Tuesday, July 31, 2007

MAKAN BERSAMA “ON LINE”

Minggu kemarin kebagian tugas dari kantor. Melayat ayah teman kantor yang meninggal di Yogya. Karena dadakan, terpaksa ke bandara go show. Untung dapet tiket G, di penerbangan pertama, jam 06.00. Terbang tepat dan mendarat juga selamat. Wah jam 07 mau langsung ke rumah duka? Wah kok kayaknya wagu. Yo, wis mampir dulu ke rumah ortu. Emak lagi jaga warung di depan, sementara Bapak masih ngaji di Wedi. Ya, sejak ditinggal Mbak Win, Bapak Ibu memang hidup sendirian. Kadang kalau dipikir ngenes juga. Udah tua hidup berdua, di rumah ndeso yang gedenya sak oro-oro. Nyapu dan ngepel saja, bisa setengah hari.

Meski sudah sepuh, bapak ibu juga masih aktif cari rezeki. Bapak masih kerja di  dua koperasi, KUD dan PBT, sementara ibu masih mengelola toko kelontong di depan rumah. Sebenarnya hampir semua anak-anaknya melarang mereka kerja, tapi mereka enggak mau. Untuk apa sih masih kerja? Saatnya sekarang leha-leha. Begitu saudara-sadaraku punya alasan. Apalagi, konon sewaktu masih muda, dua-duanya sudah bekerja keras agar anaknya semua mentas. Tapi setelah semua mentas, masih tetap aja kerja…

Tapi selidik punya selidik, orangtua punya kebahagian lain. Kebahagiannya yang kalau masih bisa aktif. Masih bisa cari rezeki sendiri. Masih bisa dapat bathi. Kalau generasi kita tentu sebagian besar pengen, setelah pensiun, maunya leha-leha. Tapi kalau mereka kita paksa leha-leha, jangan-jangan mereka malah ceper nglokro. Akhirnya, anak-anaknya mengalah. Bapak-Ibu masih tetap kerja, tapi tidak usah ngoyo, semadyo aja. Toh sekarang tidak lagi punya beban bayar kuliah anak-anaknya lagi.

Tapi karena cuma berdua, dan salah satunya harus nunggu toko, maka segalanya harus dilakukan bergantian, termasuk ke kamar kecil sekali pun. Ibu harus sabar menanti sang suami pulang jika ingin ke belakang. Kalau kebelet,  ya, terpaksa toko tutup dulu, atau minta tolong tetangga jagain dulu.
Tapi yang paling menyolok adalah mereka ternyata enggak bisa makan bareng semeja lagi. Kecuali makan malam. Mereka harus bergantian, karena semua makanan dan dapur ada di rumah belakang. Itu juga saat sarapan Minggu pagi kemarin. Saya terpaksa dipersilahkan Ibu nemanin bapak makan. Sementara Ibu menunggu warung. Saya sebenarnya sudah menawarkan agar mereka berdua makan, aku yang nunggu warung dulu. Tapi mereka enggak percaya atau enggak tega, anaknya yang jauh-jauh datang dari Jakarta, hanya untuk nunggu warung. Padahal secara pribadi saya rela.

Jujur, ada yang hilang di meja makan saat saya dan ayah makan nasi goreng (tanpa cabe) bikinan ibu. Akhirnya, saya ambil piring, mengambil nasi dan aksesorinya lalu saya serahkan ke Ibu yang jaga di warung. “Meski lain tempat, kita bisa makan bersama, kok.” Mata ibu tampak brambang. “Dasar wartawan, banyak aja akalnya,” guman Ibu.

Posted by CAK KRIS at 09:36:41 | Permalink | No Comments »

Thursday, July 19, 2007

SUSAHNYA MENJAGA PASSWORD

 Bagi pengayuh sepeda dan suka ndlewer, pilih saja kunci sepada yang untuk membuka dan menguncinya pakai password atau kata sandi. Model ini memang sangat praktis, mengingat kunci “kalung” ini tak perlu anak kunci. Jadi tak khawatir kehilangan anak kunci. Hanya saja, syaratnya harus ingat dan selalu diingat-ingat password atau kombinasi angka-angkanya. Untuk membuka pabrikan memberi kombinasi angka dari 0-9 yang jumlahnya 3 baris. Nah, agar mudah diingat, pilih password bawaaan pabrik yang sekiranya paling mudah diingat.Karena sifatnya yang tetap, Anda juga harus menjaga kerahasiaan kombinasi angka pembuka tersebut.

Sekali ketahuan orang lain, kunci tersebut sudah tidak “berfungsi” sebagai pengaman Kombinasi angka-angka pembuka dari pabrik sudah tetap. Tak bisa kita ubah, sesuai kemauan kita. Tidak seperti password di email atau account lain yang sewaktu-waktu bisa kita ganti. Makanya dari pabrikan tak ada anjuran untuk menganti password sebulan atau tiga bulan sekali.

Menjaga password kunci dengan angka kombinasi sama susahnya dengan menjaga rahasia atau teman, saudara, dan kerabat. Ketika Anda membisikkan rahasia ke orang lain bersiaplah rahasia itu akan terbuka lebih luas lagi. Meski Anda sudah wanti-wanti seribu kali agar si penerima bisikan tidak menyebarkan ke orang lain lagi.

Apalagi jika rahasia yang Anda buka adalah sebuah aib besar. Akan cepat menyebar seperti wabah penyakit menular. Rahasia atau aib itu terus menyebar dan Anda pun tak kuasa mencegahnya.

Jadi pandai-pandailah menjaga password. Selain demi keamanan, juga untuk menjaga kehormatan Anda. Ah…jadi inget betapa beratnya ganjaran bagi orang-orang yang suka membuka aib sesama.

*) ndlewer : orang yang suka meletakkan barang di sembarang tempat. Sehingga saat barang diperlukan, dia akan kebingungan.

Posted by CAK KRIS at 01:32:24 | Permalink | No Comments »

Wednesday, July 18, 2007

PERSOALAN DI ATAS PERMASALAHAN PENGANGGURAN

Pantaslah jika angka penganguran di Indonesia tak sesuai kenyataan. Mangsute yang tercatat oleh pemerintah, jauh lebih kecil dibanding realita di masyarakat. Bagi warga Kabupaten Tangerang, bisa melihat Formulir Isian Biodata Penduduk yang dikeluarkan oleh Kabupaten Tangerang, Banten dan telah disebar di bulan ini ke warga. Pengangguran tak ada di daftar profesi atau pekerjaan. Bahkan warga tak punya pilihan mengisi profesi, karena semua daftar pekerjaan atau profesi sudah tercantum dalam daftar tersebut. Jadi, bagi para pengangguran, tak ada tempat di Kabupaten Tangerang. Bisa-bisa kelak, laporan ke pemerintah pusat Kabupaten Tangerang pengganguran 0 persen. Kalau nanti pemerintah pusat mengamini data itu, bisa jadi Pemda Kab. Tangerang akan segera membuat program besar-besaran, membuat tulisan gede-gede, TANGERANG BEBAS PENGANGGURAN! Bahkan di genteng warga wajib ditulis TBP. Ah…jadi ingat tulisan B3B (Bebas 3 Buta) di genteng-genteng rumah di kampung dulu. Meski masih banyak warganya yang belum melek huruf tapi di gentengnya tertulis B3B. Mereka bukan karena bisa tulis, baca dan paham ilmu pengentahuan dasar. Tapi di rumah itu bebas, buta cakil, buta terong, dan buta rambut geni. Hi…hi…hi…. Tapi saya sih, bersyukur Alhamdulillah kalau itu memang sesuai kenyataan.

Ada 88 jenis pekerjaan yang boleh dipilih oleh warga. Salah satunya, Imam Masjid. Ya, profesi ini bisa menjadi bahan diskusi setengah hari. Benarkah seseorang kepala rumah tangga bisa mengandalkan kehidupannya menjadi imam masjid? Pertanyaan berikutnya, apakah semua imam masjid di Kabupaten Tangerang mendapat gaji dari Pemerintah dalam hal ini Departeman Agama?  Kalau sekadar pemberian sumbangan atau honor tidak tetap (yang tidak turun tiap bulan), saya pernah mendengarnya. Marbot alias penjaga masjid kompleks saya tinggal, pernah sekali mendapatkan uang bantuan dari Depag saat lebaran beberapa tahun lalu. Besarnya tak lebih dari Rp 300 ribu. Saya jadi berpikir, dengan dicantumkannya imam masjid menjadi sebuah profesi, jangan-jangan memang ada ya, honor atau dana dari Departeman Agama. Kalau ada lalu alirannya ke mana?

Tentu ini beda jika dibandingkan dengan imam masjid Istiqlal atau Pondok Indah. Pengurus masjid tentu mampu menggaji imamnya, karena masjid-masjid ini banyak mendapat pemasukan. Entah dari infaq, usaha, atau dari donator tetap. Lalu kalau masjid kampung atau kompleks, pemasukan dari mana? Untuk bayar listrik dan penjaganya saja sudah kembang kempis. Bahkan honor penceramah dan imam Jumatan saja tak bisa ditutup dengan uang infaq. Artinya, untuk operasional sehari-hari saja kerap tekor.

Yang unik lagi ada pilihan profesi sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Sejak kapan sih, SBY dan Kalla, tinggal di Tangerang?  Dan bagi para peraji, paranormal, tabib, tukang besi, tukang cukur (termasuk para pekerja di salon, tentunya) tak perlu rendah diri. Karena profesi ini juga sudah diakui, meski belum masuk dalam KTP.

Saya enggak bisa menganalisa, apa maksud pembuat daftar isian ini memberikan pilihan profesi yang tertutup. Mungkin, untuk memudahkan dalam meng-entry data. Kalau sekadar memudahkan tapi tak sesuai kenyataan untuk apa? Padahal soal pengangguran menjadi masalah besar di negeri ini. Kalau pemerintah menutup mata, kapan masalah ini bakal selesai? Inilah persoalan di atas persoalan pengangguran. Kerja pun jadi ganda! 

Posted by CAK KRIS at 15:06:03 | Permalink | No Comments »

Tuesday, July 17, 2007

INDONESIA RAYA & MOBIL JENAZAH

Demi Si Mas yang hari itu masuk sekolah SD, saya rela cuti. Ingin menunggui saat-saat bersejarah bagi si bocah yang pertama masuk sekolah di MP. Wah, tak sia-sia harus bayar “mahal” untuk ukuran kantong saya. Tapi enggak apa-apa lah. Katanya pendidikan dasar sangat menentukan. Menentukan apa? Enggak tahu. Wong Cuma denger-denger aja. Sekolah si Mas menurut ukuran saya sangat professional. Meski banyak murid, tapi tak membuat orangtua kebingungan di hari pertama. Kalau ada kekurangan, saya masih bisa memaklumi.

Si Mas sangat antusias. Sejak pagi sudah dandan rapi dengan seragam putih-putih. Apalagi tahu kalau hari itu ayahnya cuti dan akan menunggui Si Mas sampai keluar kelas. Ah…ternyata di sanajuga banyak orangtua yang seperti saya. Mengantar anak sampai gerbang kelas dan menunggui hingga bubaran sekolah.  Bahkan saat si anak belajar di kelas pun, banyak ibu-ibu yang melonggok di depan pintu, termasuk istri saya yang sebenarnya sudah saya larang berkali-kali. Sepertinya mereka tak percaya kepada dua guru yang mengajar anak mereka. Kalau tak percaya, kenapa mereka harus mahal-mahal bayar uang “kursi” untuk sang buah hati. Mendingan belajar di rumah saja.

 “Bukan tak percaya, saya cuma ingin memastikan, si Mas memperhatikan pelajaran atau tidak,” begitu kilah istri saya. Juga diamini oleh ibu-ibu yang lain. Apa itu juga bukan bentuk ketidakpercayaan? Gumanku dalam hati. Kalau memang si Mas tidak memperhatikan, toh nanti juga akan ditegur oleh guru. Tapi saya ogah berdebat. Mending aku ajak istri duduk-duduk di pinggir lapangan, melihat kakak-kakak kelas si Mas upacara.

Dari tahun ke tahun, upacara bendera tidak jauh berbeda saat saya masih di SD. Berapa tahun lalu ya? 30 tahun lalu! Yang utama adalah pengibaran bendera pusaka diiringi dengan lagu Indonesia Raya. Itu yang jadi intin dari sebuah upacara. Makanya, dinamakan upacara bendera. Saya sudah lupa kapan terakhir ikut upacara bendera.

Tapi kok, saya melihat ada yang kurang sreg  saat upacara bendera di sekolah si Mas ya? Kok, kayaknya ada yang kurang. Kali karenasaat pengibaran bendera, Indonesia Raya  dinyanyikan oleh tape recorder. Jadi para siswa tinggal  hormat saja. Kalau dulu, ada dirgen yang memberi aba-aba kepada peserta untuk menyanyikan Indonesia Raya. Rasanya ada kebanggaan menjadi rakyat Indonesia . Hati juga mak serrr!  Rasanya patriotik bangkit kembali.

Inget saat nonton sepakbola antara Indonesia lawan Arab di Senayan. Yang “mahal”, kata Pey, teman saya, adalah saat kita satu stadion menyanyikan Indonesia Raya. Selebihnya, enakan nonton di depan televisi. Bisa lebih jelas dan duduk di kursi empuk. Tapi, kebanggaan itu yang tidak dapat diperoleh saat leha-leha di rumah. Benar, memang saat itulah yang paling membagakan menjadi rakyat Indonesia . Terlepas jagoannya kalah atau menang.

Makanya, kalau Indonesia Raya  hanya dari kaset, kapan rasa patriotic generasi penerus kita akan tumbuh dan berkembang. Saya bukan anak pejuang atau anak serdadu. Saya juga tak punya cita-cita jadi sorodadu. tapi saya meresakan sesuatu yang berbeda saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Apalagi dalam suasana yang mendukung. Seperti saat Abah akan menyanyikan lagu-lagu balada di Bentara Budaya beberapa waktu lalu. Atau saat menjadi lagu itu menjadi pembuka pelatihan Krisna Murti di tempat sepi, tempo hari. Bagi saya Indonesia Raya mampu membangkitkan atau minimal mengingatkan saya akan Indonesia . Seperti juga saat saya berpapasan dengan mobil jenazah. Saya secara reflek akan hormat. Karena dengan hormat, saya merasakan sesuatu yang beda dalam batin saya. Atau minimal saya jadi ingat kematian. 

Posted by CAK KRIS at 16:50:46 | Permalink | No Comments »