Monday, December 10, 2007

PRAJURIT SEJATI

Lega. Hari ini akhirnya diumumkan! Aku jadi prajurit (lagi). Ya, memang sejatinya aku seorang prajurit (sejati). Yang lebih suka bergumul dengan lumpur dan menghirup debu jalanan. Bukan potongan sersan apalagi kapten yang mengkomando dari markas besar. Alhamdulillah, akhirnya aku dikembalikan ke habitat aslinya. Semoga bisa berkembang dan cepat beradaptasi.
Tanggal 14 Desember remi menerima SK. Tapi masih harus bawa pecut sampe akhir tahun. Ya…tinggal mengitung hari. Rasanya tak sabar menanti.
Posted by CAK KRIS at 11:24:42 | Permalink | No Comments »

Wednesday, September 19, 2007

ANAK POLAH, AYAH KENA GETAH

HARI ini semua keluarga tak sahur. Gara-gara ulah jahil si Mas. Semua kebangun saat azan Subuh sudah berkumandang. Lho, kok bisa? Usut punya usut, ternyata alarm di HP bini saya baru berbunyi jam 05 pagi. Padahal, biasanya bercicit-ciut jam 03 pagi sejak masuk bulan Ramadhan. Bini juga yakin bahwa ia menyetel jam 03 pagi, tapi kenapa kok, bunyi jam 05 pagi. Apa HP-nya rusak. Setelah diteliti ternyata tidak, setelan jamnya juga tak terlambat atau lewat. begitu dicek di setelan alarm, ternyata memang jam 05.

Setelah semua anggota keluarga senewen dan uring-uringan karena tak sahur, Si Mas malah cekikikan. Ternyata ia berhasil ngerjain seluruh anggota keluarga. Dia sengaja merubah setelan alarm dari jam 03 ke jam 05 ketika emaknya meleng ke luar kamar dan meninggalkan HP di atas bantalnya. “Sebenarnya saya mau setel jam 08. tapi malah kepencet jam 05,” begituidep-idep ujian puasa. katanya tanpa dosa. Seluruh, keluarga pun akhirnya cuma mesem-mesem. Orangtua yang dikerjain anak beyes (kecil). Yo, wis, sing sabar….

Tapi juga bini yang marah-marah ke gw. “itu…tuh. Jahilnya sudah mulai nular ke anaknya. Bapak sama anak, kok, sifatnya enggak ada yang dibuang (baca: sama).” Lho, kok gw yang jadi kena getahnya. Padahal gw gak ikut-ikutan. Apyunn…….

Posted by CAK KRIS at 16:14:03 | Permalink | No Comments »

Saturday, August 4, 2007

BUKA PUASA NONTON TV

Hari ini saya terpaksa menyalakan teve setelah 10 hari orang serumah puasa nonton teve. Teve di rumah memang sempat saya matikan. Tak ada yang bisa menghidupkan teve, baik yang di ruang keluarga maupun di kamar. Semua mati! Semua itu gara-gara si Mas yang mendadak susah bangun pagi dan kerap ngambek di sekolah, saya terpaksa mematikan semua teve. Penyebabnya apalagi kalau bukan kekenyangan nonton teve hingga semua tugas, entah pribadi maupun sekolah terabaikan. Saya pun “marah” dan membuat surat “hukuman” teve dimatikan sampai batas tak ditentukan.

Ternyata mas tenang-tenang saja. Meski di hari pertama, dia sempat membalas surat saya yang isinya minta teve dinyalakan. Hari kedua, mulai terbiasa. Bahkan mulai bisa tidur siang. Hal yang enggak mungkin dilakukan jika acara nonton teve saya bebaskan. Hari itu juga si Mas mulai ngorek-ngerek koleksi buku-bukunya. Emaknya sempat senang dan ndukung agar “hukuman” saya lanjutkan. Si Mas, kata emaknya juga makin lancar membaca. Bahkan satu kalimat dengan enam kata sudah bisa dibaca tanpa eja.

Dia juga rajin sepedaan tiap sore. Tidurnya juga tak lewat dari jam 20, meski siangnya sempat tidur. Bahkan PR tak lagi lalai dikerjakan. Ah…kok efeknya hebat banget ya? Saya pun memberi hadiah robot gundam dengan kemajuan ini. Saya juga tak mengutak-utik lagi soal teve. Dan si Mas pun tak lagi ada tuntutan menghidupkan teve. Setelah sepuluh hari, justru saya yang berpikir. Apa iya, saya akan membutakan anak saya dengan teve. Jangan-jangan nanti jadi anak kuper.

Akhirnya, saya bikin kesepakatan dengan si Mas. Bagaimana jika teve dinyalakan, tapi hanya Sabtu dan Minggu. “Oke, boleh yah…” Ini kesepakatan laki-laki, kata saya. Dia pun paham apa konsekuansinya. Jika dilanggar, teve mati selamanya. Dia pun mengusulkan, teve hidup saat Sabtu pagi (sejak ia bangun tidur) dan akan mati Minggu sore jam 5. Kami pun toss! Setuju!
Gambar diambil dari www.carbone14.be

*) Sori Mas, kemarin ayah agak keras!

Posted by CAK KRIS at 18:22:45 | Permalink | No Comments »

Thursday, June 7, 2007

MBAU, GITU AJA DIBAHAS!

Anak zaman sekarang berani. Nyela ayah bukan menjadi barang tabu. Dulu…uh…jangankan nyela, bertatap mata saja tak ada nyali. Jika ayah marah, mending kabur dari rumah atau menyusup di ketiak ibu. Ya, zaman memang sudah berubah. Sekarang cela-celaan anak-ayah justru menjadi sarana lem komunikasi. Apalagi sang ayah juga tak lagi menjaga jarak seperti layaknya tulisan-tulisan di pantat mobil angkutan yang memberi peringatan kepada sopir di belakangnya.

Pagi tadi, si Mas masih selonjor di sofa, belum mandi dan masih mengenakan pakaian tidur plus memeluk guling. Wajahnya tampak suntuk. Ah, si anak mau madol sekolah rupanya, gumanku dalam hati. Saat aku tanya, jawabannya justru membuat aku terkejut. Berikut petikannya.

Gak sekolah Mas?” tanyaku

Lagi MBAU.” jawabnya singkat

Apa tuh MBAU, Markas Besar Angkatan Udara?” kataku penuh tanda tanya.

Males Banget Taukkk,” jawabnya ringan.

Kalau gitu bukan MBAU dong. MBTU.” kataku sedikit menggoda dan protes!

Alah gitu aja dibahas.” Si Mas pun angkat kaki menuju kamarnya.

Gue tersenyum geli. Ya, pagi-pagi sudah diskak 3-0 oleh anak sendiri. Ya itulah anak sekarang.

Tapi ada benarnya juga. Kadang sebagai orang dewasa kita sering membahas hal yang remeh temeh dalam debat kusir yang melelahkan. Kalau ujung-ujungnyaada manfaat aja gak apa-apa. Tapi kalau tidak, kenapa ya, kita harus adu urat.

Posted by CAK KRIS at 13:34:02 | Permalink | No Comments »