Menggadai Mainan 1,5 Bulan
Si Mas tadi sore mengingatkan. "Tinggal lima hari lagi Yah!" Ya belakangan ini Si Mas memang rajin banget menghitung hari. Finish-nya di tanggal 25 saat karyawan swasta wajahnya pada ceria. Ya, di tanggal itu saya memang janji pada Si Mas. Membelikan "mainan" yang sudah lama ia idam-idamkan. Apa itu? Enggak penting dan yang pasti bagi orang dewasa, barang tersebut sudah jamak dimiliki. Kecuali yang berlapis emas!
Tapi janji saya itu ada syaratnya. Pertama, selama 1,5 bulan Si Mas tak boleh beli mainan. Entah mainan yang harganya seceng sampai yang puluhan ribu. Jujur saya sudah prihatin dengan jumlah mainan Si Mas yang kini ada 3 boks. Kalau tak dibatasi, jangan-jangan emaknya perlu beli boks lagi. Celakanya, Si Mas termasuk wanak yang "gemati" bin "pelit" soal mainan. Mainan yang rusak pun tak boleh dibuang. Makanya kadang saya gresek ke kotak mainan dia jika perlu gantungan kunci.
Syarat kedua adalah nilai rapornya bagus. Ukurannya? Rata-rata di atas 8. Kalau yang terakhir ini saya optimis Si Mas bakal memenuhi, melihat hasil pra semesteran, nilaianya bagus-bagus. Tapi kalau "puasa beli mainan", saya masih meragukan. Eh ternyata dia kuat juga meski beberapa kali saya setani. Misalnya, saya sengaja berhenti di depan toko mainan dan menawari mainan. Ternyata Si Mas geleng kepala.
Setelah ini lulus, kami sudah menyiapkan perjanjian lagi. Tetap soal mainan. Jujur saya sudah sepet melihat boks-boks mainan di rumah.
Tapi janji saya itu ada syaratnya. Pertama, selama 1,5 bulan Si Mas tak boleh beli mainan. Entah mainan yang harganya seceng sampai yang puluhan ribu. Jujur saya sudah prihatin dengan jumlah mainan Si Mas yang kini ada 3 boks. Kalau tak dibatasi, jangan-jangan emaknya perlu beli boks lagi. Celakanya, Si Mas termasuk wanak yang "gemati" bin "pelit" soal mainan. Mainan yang rusak pun tak boleh dibuang. Makanya kadang saya gresek ke kotak mainan dia jika perlu gantungan kunci.
Syarat kedua adalah nilai rapornya bagus. Ukurannya? Rata-rata di atas 8. Kalau yang terakhir ini saya optimis Si Mas bakal memenuhi, melihat hasil pra semesteran, nilaianya bagus-bagus. Tapi kalau "puasa beli mainan", saya masih meragukan. Eh ternyata dia kuat juga meski beberapa kali saya setani. Misalnya, saya sengaja berhenti di depan toko mainan dan menawari mainan. Ternyata Si Mas geleng kepala.
Setelah ini lulus, kami sudah menyiapkan perjanjian lagi. Tetap soal mainan. Jujur saya sudah sepet melihat boks-boks mainan di rumah.

