Ini blog milik ayah seorang anak yang bekerja di media. Tempat meludah dan memuntahkan kata-kata. Entah hasil ngudo-roso, obrolan ringan maupun diskusi serius. Bisa juga berupa ekpresi terhadap kejadian yang dirasakan. Mudah-mudahan ada makna.
Jumat, Desember 21, 2007
TIGA MENIT LEPAS KULIT
Seharian tadi sibuk ngurusin kurban. Ya, seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu kedapuk jadi panitia. Tugasnya, tak jauh-jauh dah, jadi carik. Kesibukan sebenarnya sudah mulai terasa sejak malam takbiran. Karena saya harus menyiapkan name tag panitia dan hewan kurban.
Memang kambing kurban di kompleks saya memang naik pangkat. Sebelum dan sesudah disembelih, dikalungi name tag. . Maksudnya, sih biar tidak tertukar. Ohh ya... tahun ini jumlah hewan kurban, kambing 42 sapi 3. Cukup besar untuk kompleks yang dihuni sekitar 125 KK.
Untuk menyembelih 45 hewan tersebut panitia hanya mempekerjakan 3 tenaga ahli yang khusus menguliti. Dia lah Pak Nono (tanpa K ya?) dkk yang didatangkan dari Wonosobo. Mereka datang bersama kambing-kambing pesanan warga. Pak No, memang sudah menjadi langganan warga kami untuk urusan kambing dan sapi. Rombongan ini selalu muncul tiap menjelang lebaran haji. H-3 mereka biasanya sudah datang beserta "rombongan" embeknya. Nah, begitu datang, warga langsung memilih pesanannya.
Sebagai upah menguliti, Pak No, hanya minta kulit dan kepala kambing dan sapi. Katanya, kulit kambing saat lebaran haji ini hanya laku Rp 10 ribu (entah dia bohong atau tidak). Sedangkan skin sapi dihargai Rp 125 ribu.
Tadi iseng-iseng menghitung berapa lama Pak No, menguliti kambing sampai mengeluarkan "dalemannya". Dengan modal stopwatch di HP, ternyata Pak No bisa menyelesaikan dalam waktu 3 menit! Wah, hebat bener ya? Dengan catatan, kambing yang jadi "korban" kambing kelas A (artinya bersarnya menengah)
Jadi kepikiran, menyeset alias menguliti bisa dilombakan. Apalagi jika dalam jumlah banyak plus hadiah besar. Sekarang kan, lomba aneh-aneh. Megangin mobil saja, dilombakan. Dan saya tentu menjagokan, Pak No. Sayang lomba demikian jarang yang melirik. Mungkin karena pesertanya pasti wong cilik. Sampai ketemu tahun depan, Pak No.