Jumat, Januari 25, 2008
Senin, Januari 21, 2008
Sekretaris Kok Tulisannya Jelek
Dulu jamaknya di sususan panitia yang ditunjuk sebagai sekkteraris pasti tulisannya bagus dan tarik-tarik. Dan bisa dipastikan saat SD tentu nilai pelajaran menulis halus dan sambung di atas tujuh. Makanya, saya tak pernah sekali pun bisa memegang jabatan itu. Maklum, tulisan saya kayak ceker ayam. Dulu, kalau toh dilibatkan jadi panitia, biasanya menjadi seksi perlengkapan, dokumentasi atau kesenian. Kalau toh menjadi panitia inti, jabatan saya jadi bendahara atau pernah sesekali jadi paketu.
Anehnya setelah 15 tahun kemudian dan aktif di kegiatan kompleks, saya justru menjadi sekretaris abadi. Mulai dari kegiatan kegiatan masjid (Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha dll) hingga kegiatan warga (entah tujuh belasan dll). Itu sudah berlangsung selama 3 tahun. Ketua, bendahara dan seksi lain-lain boleh berganti, tetapi sekretaris tetap saya. Aneh, kan?
Jujur saya baru menyadari belakangan ini. Kenapa ya, saya selalu didapuk menduduki posisi yang pada zaman muda dulu belum pernah aku "jabat"? Analisa saya banyak. Mungkin karena karena warga tempat saya tinggal tidak tahu, sebenarnya tulisan tangan saya jelek. Meski belakangan "rahasia" itu akhirnya terbongkar, saat saya menjadi bagian dari panitia Pemilihan Bupati Tangerang di TPS 023. Atau fungi sekretaris sekarang tak mengandalkan tulisan tangan?
Memang zaman telah berubah. Sebagai sekretaris saya menulis tangan paling saat mencatat notulen rapat. Setelah itu saya salin ke komputer. Yang diketahui umum, paling hanya tanda tangan saya.
Entah lah.... setelah kasus tulisan tangan ini "terbongkar" apakah saya predikat "sekretaris abadi" bakal tergusur? Jika itu terjadi saya malah bersyukur. Ini ungkapan jujur!
Anehnya setelah 15 tahun kemudian dan aktif di kegiatan kompleks, saya justru menjadi sekretaris abadi. Mulai dari kegiatan kegiatan masjid (Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha dll) hingga kegiatan warga (entah tujuh belasan dll). Itu sudah berlangsung selama 3 tahun. Ketua, bendahara dan seksi lain-lain boleh berganti, tetapi sekretaris tetap saya. Aneh, kan?
Jujur saya baru menyadari belakangan ini. Kenapa ya, saya selalu didapuk menduduki posisi yang pada zaman muda dulu belum pernah aku "jabat"? Analisa saya banyak. Mungkin karena karena warga tempat saya tinggal tidak tahu, sebenarnya tulisan tangan saya jelek. Meski belakangan "rahasia" itu akhirnya terbongkar, saat saya menjadi bagian dari panitia Pemilihan Bupati Tangerang di TPS 023. Atau fungi sekretaris sekarang tak mengandalkan tulisan tangan?
Memang zaman telah berubah. Sebagai sekretaris saya menulis tangan paling saat mencatat notulen rapat. Setelah itu saya salin ke komputer. Yang diketahui umum, paling hanya tanda tangan saya.
Entah lah.... setelah kasus tulisan tangan ini "terbongkar" apakah saya predikat "sekretaris abadi" bakal tergusur? Jika itu terjadi saya malah bersyukur. Ini ungkapan jujur!
Minggu, Januari 20, 2008
Menggadai Mainan 1,5 Bulan
Si Mas tadi sore mengingatkan. "Tinggal lima hari lagi Yah!" Ya belakangan ini Si Mas memang rajin banget menghitung hari. Finish-nya di tanggal 25 saat karyawan swasta wajahnya pada ceria. Ya, di tanggal itu saya memang janji pada Si Mas. Membelikan "mainan" yang sudah lama ia idam-idamkan. Apa itu? Enggak penting dan yang pasti bagi orang dewasa, barang tersebut sudah jamak dimiliki. Kecuali yang berlapis emas!
Tapi janji saya itu ada syaratnya. Pertama, selama 1,5 bulan Si Mas tak boleh beli mainan. Entah mainan yang harganya seceng sampai yang puluhan ribu. Jujur saya sudah prihatin dengan jumlah mainan Si Mas yang kini ada 3 boks. Kalau tak dibatasi, jangan-jangan emaknya perlu beli boks lagi. Celakanya, Si Mas termasuk wanak yang "gemati" bin "pelit" soal mainan. Mainan yang rusak pun tak boleh dibuang. Makanya kadang saya gresek ke kotak mainan dia jika perlu gantungan kunci.
Syarat kedua adalah nilai rapornya bagus. Ukurannya? Rata-rata di atas 8. Kalau yang terakhir ini saya optimis Si Mas bakal memenuhi, melihat hasil pra semesteran, nilaianya bagus-bagus. Tapi kalau "puasa beli mainan", saya masih meragukan. Eh ternyata dia kuat juga meski beberapa kali saya setani. Misalnya, saya sengaja berhenti di depan toko mainan dan menawari mainan. Ternyata Si Mas geleng kepala.
Setelah ini lulus, kami sudah menyiapkan perjanjian lagi. Tetap soal mainan. Jujur saya sudah sepet melihat boks-boks mainan di rumah.
Tapi janji saya itu ada syaratnya. Pertama, selama 1,5 bulan Si Mas tak boleh beli mainan. Entah mainan yang harganya seceng sampai yang puluhan ribu. Jujur saya sudah prihatin dengan jumlah mainan Si Mas yang kini ada 3 boks. Kalau tak dibatasi, jangan-jangan emaknya perlu beli boks lagi. Celakanya, Si Mas termasuk wanak yang "gemati" bin "pelit" soal mainan. Mainan yang rusak pun tak boleh dibuang. Makanya kadang saya gresek ke kotak mainan dia jika perlu gantungan kunci.
Syarat kedua adalah nilai rapornya bagus. Ukurannya? Rata-rata di atas 8. Kalau yang terakhir ini saya optimis Si Mas bakal memenuhi, melihat hasil pra semesteran, nilaianya bagus-bagus. Tapi kalau "puasa beli mainan", saya masih meragukan. Eh ternyata dia kuat juga meski beberapa kali saya setani. Misalnya, saya sengaja berhenti di depan toko mainan dan menawari mainan. Ternyata Si Mas geleng kepala.
Setelah ini lulus, kami sudah menyiapkan perjanjian lagi. Tetap soal mainan. Jujur saya sudah sepet melihat boks-boks mainan di rumah.


Komentar terakhir
pemerintah endonesa itu kayak anak abegeh
klo dlu emang yg tulisan plg bagus mas<