Kamis, Agustus 30, 2007

KERJA SAMA,TAK SEKADAR SAMA-SAMA KERJA

Hari ini dapat cerita dari teman. Gile...gw kerja sesuai target yang ditetapkan, tetap saja hasilnya tak sesuai rencana. Saya memaklumi keluh kesan teman tersebut. Maklum, dia memang dituntut menyelesaikan tugas tersebut yang normalnya diselesaikan 6 hari kerja menjadi setengahnya. Artinya, beban dua kali lipat. Ehhh...di ujungnya, ada unit lain yang tak seirama. Ya, sudah, kerja mati-matian-nya (biar lebih heroik gitu, lo) ternyata hasilnya sia-sia.
Gw jadi inget outbond dengan teman-teman di Situ Gunung beberapa tahun lalu. Ada satu program di mana kita harus berjalan dengan terompah panjang untuk 8-9 orang. Setiap langkah harus kompak. Ada satu teman yang jatuh, harus diulang dari start. Wah itu yang membuat peserta frustasi. Tapi dari atraksi itu kami menyadari bahwa kerja sama itu tidak hanya kerja sama-sama. Tapi juga harus memahami rekan kita. Saat rekan punya kekurangan, kita harus bisa menutupnya. Saat teman lain punya kelebihan, kita harus bisa memanfaatkan potensi itu. Memang tak mudah. Tapi akan lebih susah jika kita hanya memikirkan pekerjaan kita sendiri.
Foto diambil dari: www.sekolah.mmu.edu.my

Posted by CAK KRIS at 20:19:37 | Permanent Link | Comments (0) |

MENGKALKULATOR KREDIT MOTOR

Ada niat ganti motor. Tak terasa si Jupi ternyata telah 5 tahun lebih mengabdi. Tenaga, jelas mulai ringkih. Diajak geber-geberan tak seganas dulu. Niatnya mau kredit 17 bulan dengan uang muka hasil penjulan si Jupi. Kebetulan sudah ada teman yang mau menerima si Jupi dengan harga wajar.
Dari brosur yang didapat ternyata angsurannya lumayan berat. Untuk harga motor 16 jutaan, dengan DP 5 juta, angsuran 17 bulansekitar 700 ribu. Wooo. Coba deh itung berapa bunganya. Gw sih males ngitungnya. Cum, kok, jadinya banyak banget ya?
Akhirnya kepikiran "pinjam" tabungan si Mas. daripada bunga dikasih orang kaya, kenapa tidak dikasih ke anak sendiri saja. Kebetulan tabungan si Mas yang tak pernah di-owah-owah cukup untuk nambahin beli motor cash. Istri pun setuju, apalagi setelah dikalkulasi, dengan cara ini tabungan si Mas bisa langsung membengkak.
Makanya, pikir dulu kredit motor. Kalau memang ada dana segar mending beli cash saja. Atau paling tidak jika ada saudara yang punya dan mau meminjami, mending kita ngansur ke mereka. Dan kita pun tak was-was tiap bulannya. telah sehari dua hari, hati masih tenang. Coba kalau pakai leasing. Telat sehari saja, langsung ditelepon. Sebulan? langsung disamperin preman-preman yang tak tahu sopan.
Foto diambil dari www.allegro.pl

Posted by CAK KRIS at 20:05:44 | Permanent Link | Comments (2) |

Selasa, Agustus 14, 2007

SURAT UNTUK SAHABAT

Ini surat untuk dua temanku, yang menurut saya rawan bisa tergelincir ke hal yang gw tulis di bawah ini.
Enggak tahu, gw kok kepikiran terus dengan kejadian tapi pagi. Ketika saya menelepon seorang petinggi di perusahaan besar. Yang menerima anak buahnya. "Wah, Beliau sedang ke luar, mencari barang di xxxxx. Telepon ke HP-nya saja."
Sudah beberapa kali saya mendapat jawaban seperti itu. Oh.... saya jadi berpikir, si Bos ini sedang cari barang atau punya toko. Kok setiap kali ditelepon dan gak ada di tempat, kata anak buahnya dia sedang di tempat itu.
Tapi bukan itu yang membuat saya resah. Toh banyak bos yang kerjanya di luar rumah, meski ada tugas ngawasin kerja anak buahnya di kantor. Apalagi, saya bukan yang menggaji Bos itu. Sayajustru kasihan dengan "kebohongan" berulang-ulang yang dilakukan oleh anak buah bos tersebut. Kenapa saya bilang itu kebohongan, karena saya yakin si anak buah itu tahu bahwa bos -nya tidak berada di tempat yang diomongkan. Saya juga tahu bahwa omongan si anak buah itu tidak benar, karena setiap saya hubungi HP si Bos, suasana yang tertangkap bukan di sebuah tempat umum.
Nah kenapa gw resah? Saya kasihan pada si anak buah. Mungkin dia merasa tidak salah berkata demikian. Tapi apa yang diucapkan ke orang lain itu sebuah ketidakbenaran. Apakah sebuah ketidakbanaran=kebohongan? Saya enggak tahu jawabannya. Tapi jika kelak, ucapan itu "dicatat" menjadi sebuah kebohongan, alangkah "meruginya" si anak buah itu. Di agama apapun, sebuah kebohongan pasti akan dicatat negatif. Padahal dia melakukan untuk menutupi si bos, entah disuruh atau tidak, sadar atau tidak. Dia pun tak mendapat untung apa-apa. Bahkan mungkin tindakannya itu, enggak ada pengaruhnya dnegan kenaikan prestasi atau gaji. Nah kalau kelak, setelah semua raga tanpa sisa, dan kelakuan di dunia itu dihitung negatif, ah betapa ruginya dia.
Saya nulis ini tak ada tujuan apa-apa. Cuma tak ingin XXXXXX dan XXXX, jadi orang-orang yang merugi seperti anak buah si Bos itu. Hidup memang seperti meniti buih. Kita harus bisa memilih, buih mana yang kuat kita injak.
Posted by CAK KRIS at 19:35:21 | Permanent Link | Comments (1) |

Sabtu, Agustus 11, 2007

CAPEKNYA NGIKUTI IRAMA ORANG

Hari ini hari perdana pertandingan futsal di kantor. Karena digelar di lapangan sendiri,  penonton bludak. tidak seperti tahun lalu yang digelar di lapangan luar kantor. Mendadak semua karyawan berpakaian olah raga. aha...oke juga. Kebersamaan jadi terasa. Aneka seragam warna-warni bertebaran di mana-mana. Rata-rata masih baru dan masih banyak yang bau plastik. kebanyakan sih, beli jadi. Makanya jangan heran ada dua seragam tim yang sama. Sama persis!

Hari ini tim gw lawan melawan umum. Melihat postur tubuh lawan yang aduhai besarnya saja sudah MBAU alias malas banget tauuuk...... Tapi harus bagaimana, harus dilawan dan dikalahkan. Mereka rata-rata para pemain sepakbola. Tendangannya jederrr..............betapa kerasnya. Makin males aja kan? Permainan juga cenderung cepat. Satu dua sentuhan, langsung ditendang ke gawang. Untung kiper gw jagoan. Kalau tidak, entah berapa kali ia harus memungut bola.

Anehnya, tim gw kok, jadi ikut-ikutan atau terbawa permainan lawan. Meski hanya sekejap main, gw ngerasa capek banget ngikutin grudak-gruduk dari depan ke belakang. Teknik ini sangat beda saat kita latihan yang bisa oper-operan dari kaki ke kaki hingga akhirnya masuk ke mulut gawang. Gw sampai teriak-teraiak, agar teman-teman bermain cantik saja dulu. Urusan kalah menang belakangan.

Memang capek banget ngikuti irama orang lain. Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari. Ketika teman, tetangga atau kerabat mempunyai hobi ini, kita ikut-ikutan. Ketika orang lain membeli sesuatu kita juga punya nafsu menyamai. Ketika tetangga renovasi rumah, kita juga pengen ikut-ikutan. Kalau semua diikuti apa enggak capek? Pengen tenang dan nyaman, ya jadilah diri sendiri. Berjoget dengan irama yang kita suka. Kalau ngikuti irama orang lain, ya...capek deh...........

Posted by CAK KRIS at 05:40:43 | Permanent Link | Comments (0) |

Minggu, Agustus 05, 2007

BUKA PUASA NONTON TV

Hari ini saya terpaksa menyalakan teve setelah 10 hari orang serumah puasa nonton teve. Teve di rumah memang sempat saya matikan. Tak ada yang bisa menghidupkan teve, baik yang di ruang keluarga maupun di kamar. Semua mati! Semua itu gara-gara si Mas yang mendadak susah bangun pagi dan kerap ngambek di sekolah, saya terpaksa mematikan semua teve. Penyebabnya apalagi kalau bukan kekenyangan nonton teve hingga semua tugas, entah pribadi maupun sekolah terabaikan. Saya pun "marah" dan membuat surat "hukuman" teve dimatikan sampai batas tak ditentukan.

Ternyata mas tenang-tenang saja. Meski di hari pertama, dia sempat membalas surat saya yang isinya minta teve dinyalakan. Hari kedua, mulai terbiasa. Bahkan mulai bisa tidur siang. Hal yang enggak mungkin dilakukan jika acara nonton teve saya bebaskan. Hari itu juga si Mas mulai ngorek-ngerek koleksi buku-bukunya. Emaknya sempat senang dan ndukung agar "hukuman" saya lanjutkan. Si Mas, kata emaknya juga makin lancar membaca. Bahkan satu kalimat dengan enam kata sudah bisa dibaca tanpa eja.

Dia juga rajin sepedaan tiap sore. Tidurnya juga tak lewat dari jam 20, meski siangnya sempat tidur. Bahkan PR tak lagi lalai dikerjakan. Ah...kok efeknya hebat banget ya? Saya pun memberi hadiah robot gundam dengan kemajuan ini. Saya juga tak mengutak-utik lagi soal teve. Dan si Mas pun tak lagi ada tuntutan menghidupkan teve. Setelah sepuluh hari, justru saya yang berpikir. Apa iya, saya akan membutakan anak saya dengan teve. Jangan-jangan nanti jadi anak kuper.

Akhirnya, saya bikin kesepakatan dengan si Mas. Bagaimana jika teve dinyalakan, tapi hanya Sabtu dan Minggu. "Oke, boleh yah..." Ini kesepakatan laki-laki, kata saya. Dia pun paham apa konsekuansinya. Jika dilanggar, teve mati selamanya. Dia pun mengusulkan, teve hidup saat Sabtu pagi (sejak ia bangun tidur) dan akan mati Minggu sore jam 5. Kami pun toss! Setuju!
Gambar diambil dari www.carbone14.be

*) Sori Mas, kemarin ayah agak keras!

Posted by CAK KRIS at 01:22:45 | Permanent Link | Comments (0) |

Jumat, Agustus 03, 2007

KETIKA HIDUP SALAH UKURAN

Pagi tadi Si Mas protes. Sepatu olahraganya mulai kesempitan. ”Sudah enggak enak Yah! Jempol ketekuk, nih.” Kupijit-pijit ujung sepatunya. Memang kelihatannya jempol sudah mentok ke ujung sepatu. Saya bisa merasakan, memang tidak enak memakai sepatu kesempitan. Enggak nyaman! Karena memang tidak ada pilihan lain, Si Mas tetap saja memakai sepatu yang kesempitan. ”Oke, besok Minggu Ayah beliin deh,” janjiku.

Waktu kecil saya juga sering memakai sepatu tidak sesuai ukuran. Ayah saya kalau membelikan sepatu pasti nomornya di atas ukuran kaki saya. Alasannya, ”ngundurin gede.” Artinya saat kaki tambah panjang, sepatu jadi pas di kaki. Jadi ”umur ”sepatu, jadi lebih panjang. Makanya saat enak-anaknya memakai (karena ukuran sepatu pas dengan ukuran kaki), kondisi sepatu sudah bulukan.

Jika sepatu kebesaran, solusi yang paling gampang adalah menganjal dengan kain atau kertas dan tali sepatu harus diikat kuat-kuat. Jika tidak, saat dipakai menendang bola, sepatu bisa ikut melayang.

Kadang dalam menjalani hidup kita sering dihadapkan pada sesuatu yang tak sesuai dengan ukuran kita. Saat mulut kita pengen diam, tiba-tiba kita kedatangan tamu atau duduk bareng orang yang cerewetnya minta ampun. Saat kita merasa pas berkarier di bidang ini, ternyata yang didapat profesi lain. Akankah ”sepatu” yang kita dapat, langsung kita tanggalkan?

Hidup memang tidak selalu pas. Pas sesuai takaran kita. Tapi meski kekurangpasan itu bikin hidup kita tidak enak, kita harus berusaha untuk menikmati. Ya, kalau tidak, rasa sakit akan makin bertambah. Yang penting, jangan memaksakan diri. Kalau sudah menyiksa, ya tinggalkan. Toh hidup ini sebuah pilihan. Lalu siapa yang mengarahkan? Silakan tengok ke dada masing-masing.

Foto diambil dari www.mg.alibaba.com

Posted by CAK KRIS at 20:46:57 | Permanent Link | Comments (0) |

Kamis, Agustus 02, 2007

PREDIKSI AKHIR CERITA HALIMAH VS BAMBANG

Bolehlah Bambang banyak dihujat karena selingkuhi Mayang. Begitu juga penyanyi dari Purwokerto ini dicaci-maki karena dituduh merebut suami orang. Tapi opini miring yang tertuju pada Bambang dan Mayang tak membuat ada kekuatan lebih dari Halimah untuk terus mempertahankan perkawinan. Kenapa bisa begitu?

Menilik dari proses sidang di PA Jakarta Pusat, menurut prediksi saya, kasus ini akan berlanjut dan keutuhan rumah tangga pasangan ini akan ditentukan oleh hakim yang mengadili. Pasalnya hingga saya menulis prediksi ini, proses persidangan terus berlanjut dan jalan damai rasa-rasanya sudah tak menemukan pintu keluar.

Artinya, gugatan Bambang bakal dikabulkan. Mereka akan resmi cerai. Nah, persoalan yang mungkin lebih alot adalah justru masalah pembagian harta gono-gini. Halimah tentu tak ingin, setelah cerai, Bambang masih bisa hidup bergelimpangan harta. Dia tak ingin Mayang mabuk kepayang dengan limpahan harta dari Bambang. Begitu juga Halimah tak mau Bambang mabuk ke Mayang terus-terusan. Kalau perlu, Mayang harus hidup kesakrat, karena telah membuat rumah tangga Halimah porak-poranda.

Halimah juga akan menuntut banyak soal hak-hak untuk anaknya selepas mereka tak lagi jadi istri Bambang. Bahkan bisa jadi, sang anak nanti akan terus menjadi kepanjangan tangan Halimah untuk terus menguras harta Bambang setelah hidup bersama Mayang.

Sikap ini bukan didasari karena  Halimah serakah. Tujuannya seperti saya sebutkan di atas, ia tak ingin Mayang hidup tenang bersama Bambang. Sampai neraka pun akan dikejar.

Lalu bagaimana dengan nasib Mayang setelelah Bambang lepas dari Halimah? Memang ia harus kuat menghadapi ”teror” Halimah. Kalau soal ini, mungkin tak seberapa. Dan Mayang pun sudah membekali diri, karena ia sudah tahu posisinya di mana saat mulai dekat dengan Bambang. Yang dikhawatirkan justru sikap Bambang. Apakah sikapnya masih tetap seperti semula? Atau malah sedikit-sedikit menjahuinya karena ia juga mulai ”dikecewakan” Mayang. Kemungkinan kedua justru yang paling besar. Jadi, episode ini bakal mengalahkan sinetron terpanjang sekali pun.

Posted by CAK KRIS at 14:08:27 | Permanent Link | Comments (0) |