KERJA SAMA,TAK SEKADAR SAMA-SAMA KERJA
Hari ini dapat cerita dari teman. Gile...gw kerja sesuai target yang ditetapkan, tetap saja hasilnya tak sesuai rencana. Saya memaklumi keluh kesan teman tersebut. Maklum, dia memang dituntut menyelesaikan tugas tersebut yang normalnya diselesaikan 6 hari kerja menjadi setengahnya. Artinya, beban dua kali lipat. Ehhh...di ujungnya, ada unit lain yang tak seirama. Ya, sudah, kerja mati-matian-nya (biar lebih heroik gitu, lo) ternyata hasilnya sia-sia.
Gw jadi inget outbond dengan teman-teman di Situ Gunung beberapa tahun lalu. Ada satu program di mana kita harus berjalan dengan terompah panjang untuk 8-9 orang. Setiap langkah harus kompak. Ada satu teman yang jatuh, harus diulang dari start. Wah itu yang membuat peserta frustasi. Tapi dari atraksi itu kami menyadari bahwa kerja sama itu tidak hanya kerja sama-sama. Tapi juga harus memahami rekan kita. Saat rekan punya kekurangan, kita harus bisa menutupnya. Saat teman lain punya kelebihan, kita harus bisa memanfaatkan potensi itu. Memang tak mudah. Tapi akan lebih susah jika kita hanya memikirkan pekerjaan kita sendiri.
Foto diambil dari: www.sekolah.mmu.edu.my
Ada niat ganti motor. Tak terasa si Jupi ternyata telah 5 tahun lebih mengabdi. Tenaga, jelas mulai ringkih. Diajak geber-geberan tak seganas dulu. Niatnya mau kredit 17 bulan dengan uang muka hasil penjulan si Jupi. Kebetulan sudah ada teman yang mau menerima si Jupi dengan harga wajar.
Ini surat untuk dua temanku, yang menurut saya rawan bisa tergelincir ke hal yang gw tulis di bawah ini.
Hari ini hari perdana pertandingan futsal di kantor. Karena digelar di lapangan sendiri, penonton bludak. tidak seperti tahun lalu yang digelar di lapangan luar kantor. Mendadak semua karyawan berpakaian olah raga. aha...oke juga. Kebersamaan jadi terasa. Aneka seragam warna-warni bertebaran di mana-mana. Rata-rata masih baru dan masih banyak yang bau plastik. kebanyakan sih, beli jadi. Makanya jangan heran ada dua seragam tim yang sama. Sama persis!
Hari ini saya terpaksa menyalakan teve setelah 10 hari orang serumah puasa nonton teve. Teve di rumah memang sempat saya matikan. Tak ada yang bisa menghidupkan teve, baik yang di ruang keluarga maupun di kamar. Semua mati! Semua itu gara-gara si Mas yang mendadak susah bangun pagi dan kerap ngambek di sekolah, saya terpaksa mematikan semua teve. Penyebabnya apalagi kalau bukan kekenyangan nonton teve hingga semua tugas, entah pribadi maupun sekolah terabaikan. Saya pun "marah" dan membuat surat "hukuman" teve dimatikan sampai batas tak ditentukan.



Komentar terakhir
pemerintah endonesa itu kayak anak abegeh
klo dlu emang yg tulisan plg bagus mas<