Selasa, Juli 31, 2007

MAKAN BERSAMA "ON LINE"

Minggu kemarin kebagian tugas dari kantor. Melayat ayah teman kantor yang meninggal di Yogya. Karena dadakan, terpaksa ke bandara go show. Untung dapet tiket G, di penerbangan pertama, jam 06.00. Terbang tepat dan mendarat juga selamat. Wah jam 07 mau langsung ke rumah duka? Wah kok kayaknya wagu. Yo, wis mampir dulu ke rumah ortu. Emak lagi jaga warung di depan, sementara Bapak masih ngaji di Wedi. Ya, sejak ditinggal Mbak Win, Bapak Ibu memang hidup sendirian. Kadang kalau dipikir ngenes juga. Udah tua hidup berdua, di rumah ndeso yang gedenya sak oro-oro. Nyapu dan ngepel saja, bisa setengah hari.

Meski sudah sepuh, bapak ibu juga masih aktif cari rezeki. Bapak masih kerja di  dua koperasi, KUD dan PBT, sementara ibu masih mengelola toko kelontong di depan rumah. Sebenarnya hampir semua anak-anaknya melarang mereka kerja, tapi mereka enggak mau. Untuk apa sih masih kerja? Saatnya sekarang leha-leha. Begitu saudara-sadaraku punya alasan. Apalagi, konon sewaktu masih muda, dua-duanya sudah bekerja keras agar anaknya semua mentas. Tapi setelah semua mentas, masih tetap aja kerja...

Tapi selidik punya selidik, orangtua punya kebahagian lain. Kebahagiannya yang kalau masih bisa aktif. Masih bisa cari rezeki sendiri. Masih bisa dapat bathi. Kalau generasi kita tentu sebagian besar pengen, setelah pensiun, maunya leha-leha. Tapi kalau mereka kita paksa leha-leha, jangan-jangan mereka malah ceper nglokro. Akhirnya, anak-anaknya mengalah. Bapak-Ibu masih tetap kerja, tapi tidak usah ngoyo, semadyo aja. Toh sekarang tidak lagi punya beban bayar kuliah anak-anaknya lagi.

Tapi karena cuma berdua, dan salah satunya harus nunggu toko, maka segalanya harus dilakukan bergantian, termasuk ke kamar kecil sekali pun. Ibu harus sabar menanti sang suami pulang jika ingin ke belakang. Kalau kebelet,  ya, terpaksa toko tutup dulu, atau minta tolong tetangga jagain dulu.
Tapi yang paling menyolok adalah mereka ternyata enggak bisa makan bareng semeja lagi. Kecuali makan malam. Mereka harus bergantian, karena semua makanan dan dapur ada di rumah belakang. Itu juga saat sarapan Minggu pagi kemarin. Saya terpaksa dipersilahkan Ibu nemanin bapak makan. Sementara Ibu menunggu warung. Saya sebenarnya sudah menawarkan agar mereka berdua makan, aku yang nunggu warung dulu. Tapi mereka enggak percaya atau enggak tega, anaknya yang jauh-jauh datang dari Jakarta, hanya untuk nunggu warung. Padahal secara pribadi saya rela.

Jujur, ada yang hilang di meja makan saat saya dan ayah makan nasi goreng (tanpa cabe) bikinan ibu. Akhirnya, saya ambil piring, mengambil nasi dan aksesorinya lalu saya serahkan ke Ibu yang jaga di warung. "Meski lain tempat, kita bisa makan bersama, kok." Mata ibu tampak brambang. "Dasar wartawan, banyak aja akalnya," guman Ibu.

Posted by CAK KRIS at 16:36:41 | Permanent Link | Comments (0) |

Kamis, Juli 19, 2007

SUSAHNYA MENJAGA PASSWORD

 Bagi pengayuh sepeda dan suka ndlewer, pilih saja kunci sepada yang untuk membuka dan menguncinya pakai password atau kata sandi. Model ini memang sangat praktis, mengingat kunci “kalung” ini tak perlu anak kunci. Jadi tak khawatir kehilangan anak kunci. Hanya saja, syaratnya harus ingat dan selalu diingat-ingat password atau kombinasi angka-angkanya. Untuk membuka pabrikan memberi kombinasi angka dari 0-9 yang jumlahnya 3 baris. Nah, agar mudah diingat, pilih password bawaaan pabrik yang sekiranya paling mudah diingat.Karena sifatnya yang tetap, Anda juga harus menjaga kerahasiaan kombinasi angka pembuka tersebut.

Sekali ketahuan orang lain, kunci tersebut sudah tidak “berfungsi” sebagai pengaman Kombinasi angka-angka pembuka dari pabrik sudah tetap. Tak bisa kita ubah, sesuai kemauan kita. Tidak seperti password di email atau account lain yang sewaktu-waktu bisa kita ganti. Makanya dari pabrikan tak ada anjuran untuk menganti password sebulan atau tiga bulan sekali.

Menjaga password kunci dengan angka kombinasi sama susahnya dengan menjaga rahasia atau teman, saudara, dan kerabat. Ketika Anda membisikkan rahasia ke orang lain bersiaplah rahasia itu akan terbuka lebih luas lagi. Meski Anda sudah wanti-wanti seribu kali agar si penerima bisikan tidak menyebarkan ke orang lain lagi.

Apalagi jika rahasia yang Anda buka adalah sebuah aib besar. Akan cepat menyebar seperti wabah penyakit menular. Rahasia atau aib itu terus menyebar dan Anda pun tak kuasa mencegahnya.

Jadi pandai-pandailah menjaga password. Selain demi keamanan, juga untuk menjaga kehormatan Anda. Ah…jadi inget betapa beratnya ganjaran bagi orang-orang yang suka membuka aib sesama.

*) ndlewer : orang yang suka meletakkan barang di sembarang tempat. Sehingga saat barang diperlukan, dia akan kebingungan.

Posted by CAK KRIS at 08:32:24 | Permanent Link | Comments (0) |

Rabu, Juli 18, 2007

PERSOALAN DI ATAS PERMASALAHAN PENGANGGURAN

Pantaslah jika angka penganguran di Indonesia tak sesuai kenyataan. Mangsute yang tercatat oleh pemerintah, jauh lebih kecil dibanding realita di masyarakat. Bagi warga Kabupaten Tangerang, bisa melihat Formulir Isian Biodata Penduduk yang dikeluarkan oleh Kabupaten Tangerang, Banten dan telah disebar di bulan ini ke warga. Pengangguran tak ada di daftar profesi atau pekerjaan. Bahkan warga tak punya pilihan mengisi profesi, karena semua daftar pekerjaan atau profesi sudah tercantum dalam daftar tersebut. Jadi, bagi para pengangguran, tak ada tempat di Kabupaten Tangerang. Bisa-bisa kelak, laporan ke pemerintah pusat Kabupaten Tangerang pengganguran 0 persen. Kalau nanti pemerintah pusat mengamini data itu, bisa jadi Pemda Kab. Tangerang akan segera membuat program besar-besaran, membuat tulisan gede-gede, TANGERANG BEBAS PENGANGGURAN! Bahkan di genteng warga wajib ditulis TBP. Ah…jadi ingat tulisan B3B (Bebas 3 Buta) di genteng-genteng rumah di kampung dulu. Meski masih banyak warganya yang belum melek huruf tapi di gentengnya tertulis B3B. Mereka bukan karena bisa tulis, baca dan paham ilmu pengentahuan dasar. Tapi di rumah itu bebas, buta cakil, buta terong, dan buta rambut geni. Hi…hi…hi…. Tapi saya sih, bersyukur Alhamdulillah kalau itu memang sesuai kenyataan.

Ada 88 jenis pekerjaan yang boleh dipilih oleh warga. Salah satunya, Imam Masjid. Ya, profesi ini bisa menjadi bahan diskusi setengah hari. Benarkah seseorang kepala rumah tangga bisa mengandalkan kehidupannya menjadi imam masjid? Pertanyaan berikutnya, apakah semua imam masjid di Kabupaten Tangerang mendapat gaji dari Pemerintah dalam hal ini Departeman Agama?  Kalau sekadar pemberian sumbangan atau honor tidak tetap (yang tidak turun tiap bulan), saya pernah mendengarnya. Marbot alias penjaga masjid kompleks saya tinggal, pernah sekali mendapatkan uang bantuan dari Depag saat lebaran beberapa tahun lalu. Besarnya tak lebih dari Rp 300 ribu. Saya jadi berpikir, dengan dicantumkannya imam masjid menjadi sebuah profesi, jangan-jangan memang ada ya, honor atau dana dari Departeman Agama. Kalau ada lalu alirannya ke mana?

Tentu ini beda jika dibandingkan dengan imam masjid Istiqlal atau Pondok Indah. Pengurus masjid tentu mampu menggaji imamnya, karena masjid-masjid ini banyak mendapat pemasukan. Entah dari infaq, usaha, atau dari donator tetap. Lalu kalau masjid kampung atau kompleks, pemasukan dari mana? Untuk bayar listrik dan penjaganya saja sudah kembang kempis. Bahkan honor penceramah dan imam Jumatan saja tak bisa ditutup dengan uang infaq. Artinya, untuk operasional sehari-hari saja kerap tekor.

Yang unik lagi ada pilihan profesi sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Sejak kapan sih, SBY dan Kalla, tinggal di Tangerang?  Dan bagi para peraji, paranormal, tabib, tukang besi, tukang cukur (termasuk para pekerja di salon, tentunya) tak perlu rendah diri. Karena profesi ini juga sudah diakui, meski belum masuk dalam KTP.

Saya enggak bisa menganalisa, apa maksud pembuat daftar isian ini memberikan pilihan profesi yang tertutup. Mungkin, untuk memudahkan dalam meng-entry data. Kalau sekadar memudahkan tapi tak sesuai kenyataan untuk apa? Padahal soal pengangguran menjadi masalah besar di negeri ini. Kalau pemerintah menutup mata, kapan masalah ini bakal selesai? Inilah persoalan di atas persoalan pengangguran. Kerja pun jadi ganda! 

Posted by CAK KRIS at 22:06:03 | Permanent Link | Comments (0) |

Selasa, Juli 17, 2007

INDONESIA RAYA & MOBIL JENAZAH

Demi Si Mas yang hari itu masuk sekolah SD, saya rela cuti. Ingin menunggui saat-saat bersejarah bagi si bocah yang pertama masuk sekolah di MP. Wah, tak sia-sia harus bayar “mahal” untuk ukuran kantong saya. Tapi enggak apa-apa lah. Katanya pendidikan dasar sangat menentukan. Menentukan apa? Enggak tahu. Wong Cuma denger-denger aja. Sekolah si Mas menurut ukuran saya sangat professional. Meski banyak murid, tapi tak membuat orangtua kebingungan di hari pertama. Kalau ada kekurangan, saya masih bisa memaklumi.

Si Mas sangat antusias. Sejak pagi sudah dandan rapi dengan seragam putih-putih. Apalagi tahu kalau hari itu ayahnya cuti dan akan menunggui Si Mas sampai keluar kelas. Ah…ternyata di sanajuga banyak orangtua yang seperti saya. Mengantar anak sampai gerbang kelas dan menunggui hingga bubaran sekolah.  Bahkan saat si anak belajar di kelas pun, banyak ibu-ibu yang melonggok di depan pintu, termasuk istri saya yang sebenarnya sudah saya larang berkali-kali. Sepertinya mereka tak percaya kepada dua guru yang mengajar anak mereka. Kalau tak percaya, kenapa mereka harus mahal-mahal bayar uang “kursi” untuk sang buah hati. Mendingan belajar di rumah saja.

 “Bukan tak percaya, saya cuma ingin memastikan, si Mas memperhatikan pelajaran atau tidak,” begitu kilah istri saya. Juga diamini oleh ibu-ibu yang lain. Apa itu juga bukan bentuk ketidakpercayaan? Gumanku dalam hati. Kalau memang si Mas tidak memperhatikan, toh nanti juga akan ditegur oleh guru. Tapi saya ogah berdebat. Mending aku ajak istri duduk-duduk di pinggir lapangan, melihat kakak-kakak kelas si Mas upacara.

Dari tahun ke tahun, upacara bendera tidak jauh berbeda saat saya masih di SD. Berapa tahun lalu ya? 30 tahun lalu! Yang utama adalah pengibaran bendera pusaka diiringi dengan lagu Indonesia Raya. Itu yang jadi intin dari sebuah upacara. Makanya, dinamakan upacara bendera. Saya sudah lupa kapan terakhir ikut upacara bendera.

Tapi kok, saya melihat ada yang kurang sreg  saat upacara bendera di sekolah si Mas ya? Kok, kayaknya ada yang kurang. Kali karenasaat pengibaran bendera, Indonesia Raya  dinyanyikan oleh tape recorder. Jadi para siswa tinggal  hormat saja. Kalau dulu, ada dirgen yang memberi aba-aba kepada peserta untuk menyanyikan Indonesia Raya. Rasanya ada kebanggaan menjadi rakyat Indonesia . Hati juga mak serrr!  Rasanya patriotik bangkit kembali.

Inget saat nonton sepakbola antara Indonesia lawan Arab di Senayan. Yang “mahal”, kata Pey, teman saya, adalah saat kita satu stadion menyanyikan Indonesia Raya. Selebihnya, enakan nonton di depan televisi. Bisa lebih jelas dan duduk di kursi empuk. Tapi, kebanggaan itu yang tidak dapat diperoleh saat leha-leha di rumah. Benar, memang saat itulah yang paling membagakan menjadi rakyat Indonesia . Terlepas jagoannya kalah atau menang.

Makanya, kalau Indonesia Raya  hanya dari kaset, kapan rasa patriotic generasi penerus kita akan tumbuh dan berkembang. Saya bukan anak pejuang atau anak serdadu. Saya juga tak punya cita-cita jadi sorodadu. tapi saya meresakan sesuatu yang berbeda saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Apalagi dalam suasana yang mendukung. Seperti saat Abah akan menyanyikan lagu-lagu balada di Bentara Budaya beberapa waktu lalu. Atau saat menjadi lagu itu menjadi pembuka pelatihan Krisna Murti di tempat sepi, tempo hari. Bagi saya Indonesia Raya mampu membangkitkan atau minimal mengingatkan saya akan Indonesia . Seperti juga saat saya berpapasan dengan mobil jenazah. Saya secara reflek akan hormat. Karena dengan hormat, saya merasakan sesuatu yang beda dalam batin saya. Atau minimal saya jadi ingat kematian. 

Posted by CAK KRIS at 23:50:46 | Permanent Link | Comments (0) |

SATU RASA, BEDA HARGA

Usai rapat evaluasi acara “CHELENG”, gw mampir ke toko buah di bilangan Jl Arteri Pondok Indah. Ini sesuai perintah “sang Kapten” di rumah via SMS. “Yah…tolong mampir beli jeruk. Jangan lupa ya?” Karena ada tambahan ”jangan lupa” kayaknya Si Mas memang sangat berharap makan jeruk. Bisa juga  dia tidak mau sang ayah bikin alasan (yang selalu berulang), ”aduh...lupa. Entar ya...”

            Ada banyak pilihan jeruk di sana. Mulai jeruk medan, pontianak, sampai jeruk impor. Entah kenapa malam itu, rasa nasionalias saya luntur seketika begitu menatap tumpukan jeruk mungil warna kuning menyala dengan bandrol di sampingnya, 14 ribu/kg. Wooo....tumben jeruk luar nagri kok murah amat. Apalagi kecil-kecil. Setelah pilah-pilih, dan masuk kantong akhirnya, ditimbang. Bregedeg....kok, harga tertera Rp 53.000. Padahal beratnya cuma sekilo lebih sedikit. Saat di kasir sempat mengkonfirmasi harga, ternyata benar. Lalu harga Rp 14 ribu itu untuk jeruk yang mana. ”Itu untuk jeruk  medan pak!” Yo...wis...terpaksa bayar, meski dengan berat hati.

            Dalam perjalanan pulang, sempat mampir di dekat pasar Ciputat. Saya ingin membandingkan rasanya jeruk lokal dan impor. Sengaja aku mampir di pedagang jeruk yang banyak berjejer di kawasan itu. Aku pilih yang mungil-mungil. Harganya pun, hanya Rp 4 ribu per kilo. Belilah sekilo.

            Sampai di rumah si Mas ternyata dah pulas. Aku sengaja ambil satu jeruk mahal yang dipajang di tempat ber-AC dan satu jeruk kelas pasar. Ingin membandingkan  rasanya. Jeruk mahal, memang manis, tapi air sedikit dan agak-agak sepo. Sementara jeruk pasar ada manisnya, ada kecutnya dan airnya banyak. Kalau disuruh memilih, ya pilih jeruk pasar. Selain soal rasa yang bermacam-macam, tentu juga soal harga yang hampir sepersepuluhnya. Bagaimana dengan Anda?

Posted by CAK KRIS at 14:54:14 | Permanent Link | Comments (0) |

Rabu, Juli 04, 2007

KEPEPET, NYOPET, LALU MENYIAPKAN TIPUAN!

 

Wah…ini pengalaman baru. Jadi desainer grafis. Bikin desain back drop dan spanduk. Cukup menyita waktu memang. Apalagi penguasaan software photoshop masih grutal-grutul. You know grutal-grutul? Tapi karena kepepet, bagaimana lagi. Ya, kadang kalau orang kepepet, semua yang mustahil bisa dilakukan. Setelah semalam begadang, akhirnya kelar juga. Soal hasilnya bagaimana? Itu sih urusan terakhir. Desain yang gw buat ukurannya lumayan, lo, 3 x 5 meter! Dan akan dilihat sekitar 1500 orang.

 

Memang kadang kalau orang lagi kepepet apapun bisa dilakukan. Waktu kecil pernah punya pengalaman. Saat nyolong jambu di pekarangan tetangga, tiba-tiba sang empunya datang. Begitu teriak-teriak, langsung terjun dari pohon yang tingginya 3 meter-an. Anehnya, bisa mendarat dengan mulus bahkan bisa lari sipat kuping. Kalau suruh mengulang, pasti tidak mungkin bisa. Apalagi dalam kondisi yang tenang, tanpa dikejar-kejar!

Gw ngerjain proyek ini juga karena dikejar tengat. Ya, proyek yang enggak jelas, antara urusan kantor atau hobi. Emang ini agak aneh. Acaranya dibiayai kantor, tapi yang mengerjakan adalah karyawan-karyawan yang punya hobi sepeda. Anehnya, bos gw enggak ngerti kalau gw juga terlibat di kepanitiaan ini. Jadi pekerjaan harian tetap jalan, sementara urusan acara juga harus jalan. Makanya kerja dan rapat-rapatnya, biasanya selepas jam kerja. Hasilnya tentu juga tak maksimal. Seminggu sebelum hari H, masih banyak yang bolong-bolong. Itu yang membuat panitia (khususnya) sang ketua stres! Makanya panitia dituntut harus serba bisa. Termasuk saya yang didapuk di seksi acara terpaksa bikin desain. Belum lagi di hari H juga merangkap jadi tukang, kuli, atau apa saja. Enggak apa-apa, sih. Yang penting jangan jadi MC. J

Kalau kepepet tapi menghasilkan sesuatu yang di luar dugaan tentu menyenangkan. Yang sering terjadi, sih, orang berbuat kejahatan setelah ditangkap polisi menyodorkan beragam alasannya kepepet. Nyopet karena ingin makan, istri mau melahirkan, atau anak butuh uang sekolah. Itulah yang sering jadi alasan penjahat kambuhan saat diintrograsi polisi. Apakah alasan-alasan itu akan mengurangi hukuman? Ah...rasanya enggak. Kalau mendatangkan iba, mungkin bisa terjadi.

Kalau itu memengaruhi hukuman pasti polisi tak akan begitu percaya saja. Dia pasti akan ngecek ke rumah tersangka. Apakah benar, istrinya akan melahirkan. Jangan-jangan anaknya sudah gede-gede. Apakah benar anaknya butuh uang sekolah? Apakah benar dia tak bisa makan.

Makanya kalau kepergok berbuat jahat, terus terang saja. Enggak perlu nipu-nipu lagi. Dosanya malah jadi dua. Sudah nyopet, masih nipu lagi.

Posted by CAK KRIS at 23:17:43 | Permanent Link | Comments (0) |