Kamis, Juni 21, 2007

DIKADALI AYAM, PERNAHKAH?

Profesi ini nyaris tanpa ketrampilan. Jadi siapa pun bisa melakukannya. Pria, wanita, dewas, bahkan anak-anak pun bisa. Syaratnya hanya satu, tidak bisu! Ya itulah ayam yang selalu berkeliaran di terminal, entah yang beneran atau yang bayangan. Malah kadang mereka kerja di ujung jalan atau di tikungan, halte dan tempat para angkutan kota ngetem.

Ayam memang Pak Ogah alias polisi "Pekgo". Sama-sama jual jasa kepada para pengendara mobil dan harus rela berpanas-panas atau kehujanan di tengah jalan (kalau kehujanan di tengah jalan kenapa tidak lewat pinggir jalan aja- Ini dagelan siapa ya, bukan Basiyo, kan?). Cuma bedanya, tugas ayam adalah mecari atau tepatnya membujuk calon penumpang agar naik ke angkot, bus, atau mikrolet yang diayami. Sementara jasa Pak Ogah, mencarikan jalan mobil di persimpangan.

Untuk jasa mengayami ini tarifnya beda-beda. Di Pasar Ciputat, Tangerang tiap ayam yang berhasil memasukkan penumpang ke angkot mendapat upah Rp 3 ribu. Di sana, ada 5 sampai 10 ayam. Makanya kalau pas jam-jam sibuk, biasanya sekitar jam 17.00 sampai jam 19.00 malam, teriakan-teriakan mereka sangat riuh.

Jika penumpang banyak, tak angkot tak sampai 5 menit ngetem sudah jalan. Jika sepi, bisa-bisa 15 – 20 menit baru berangkat. Ukuran upah ayam memang tidak dengan waktu, tetapi oleh penuhnya penumpang atau kemauan sang sopir. Kadang kala, sang sopir memilih berangkat saja, meski penumpang belum penuh.

Mari kita hitung-hitungan penghasilan profesi ini. Jika diambil rata-rata tiap angkot penuh 15 menit, maka tiap jam dia mendapatkan uang Rp 3.000 x 4 = Rp 12.000. Jika ia bekerja sehari 8 jam maka sehari dapat Rp 96.000. Sebulan (dengan asumsi Sabtu dan Minggu libur) ia dapat Rp 1.920.000. Tak ada potongan pajak, tak pernah dibentak-bentak bos dan kerja bisa seenaknya.

Hanya saja profesi ini selalu kadal-kadalan. Untuk menarik penumpang, ia sengaja memasang "kacung" di dalam, seolah-olah penumpang sudah ada. Setelah mulai ada penumpang, si kacung keluar. Saat bangku masih 5 saja, si ayam selalu teriak, tinggal dua dan langsung berangkat. Padahal begitu pantat calon penumpang duduk, si ayam masih teriak-teriak dan angkot tetap belum jalan. Pernahkah Anda dikadali ayam?


T 4 Hendra, calon preman Ciputat atas infonyaLaughing
Posted by CAK KRIS at 19:16:29 | Permanent Link | Comments (0) |

Rabu, Juni 20, 2007

NASI BOGANA, KOK JADI BEGINI

Senin kemarin ada juragan yang lagi ultah. Biar tambah berkah, sekantor disiapkan makan siang. Menunya ”sederhana-sederhana mewah”, nasi bogana plus sate melon dan semangka. Praktis memang. OB cukup meletakkan nasi yang dibungkus daun pisang di meja masing-masing. Teknik membungkusnya, lewat teknik penak. Ujung daun disemat dengan tusuk gigi. Susah ya, gambarainnya. Itu lo, seperti menggulung lemper, cuma tidak panjang. Mudah-mudahan mudeng deh.

Begitu daun dibuka, ah ternyata bukan sesuatu yang istimewa. Nasi (agak gurih, tapi lebih gurih dibanding nasi uduk) dengan lauk, separuh telor (masak opor), suwiran ayam (dimasak opor), sambal goreng ati, kering tempe, ongseng kacang, daging manis (menyerupai abon). Saya jadi ingat, menu retoran/warung zaman dulu di Jawa Tengah. Namanya nasi rames. Nasi dengan lauk bermacam-macam yang serba sedikit. Lauknya sih, sama dengan nasi bogana.

Mungkin sekarang hanya satu dua warung di Jawa yang menyediakan nasi rames. Padahal dulu menu itu selalu ada di setiap warung. Makan nasi rames di warung memang seperti makan masakan rumahan. Mungkin karena itu juga akhirnya menu ini dulu jadi andalan. Meski jajan, serasa makan di rumah.

Kembali ke bogana yang saya santap. Ya menunya memang sederhana. Porsi juga pas bagi karyawan kantoran. Tapi yang cara pengemasannya sungguh indah. Apapun produknya, kemasan memang sangat menentukan. Saya juga terpana dengan bungkusnya. Tapi begitu dibuka, ya biasa saja sih. Soal rasa...yang lumayan. Yang paling menonjol, ya kemasan itu. Apalagi di tiap bungkus ditempel stiker promosi. ”Nasi Bogana ’J***Y’ Resep Asli Tegal” lengkap dengan dua nomor telepon yang bisa dihubungi.

Meski menunya sederhana, harganya tidaklah sederhana. Apalagi yang pengelola bersedia mengantar. Tentu dengan order minimal. Ya, kemasan memang menentukan!

Posted by CAK KRIS at 20:24:30 | Permanent Link | Comments (0) |

Minggu, Juni 17, 2007

PENGUNGSIAN SAAT LIBURAN

 

SEBENTAR lagi liburan. Enak bagi si anak, sengsara bagi orangtua. Sengsara karena harus menyiapkan buget untuk liburan. Setelah libur, uang lagi untuk keperluan sekolah. Liburan ke rumah nenek saja? Mahal dong harus ke luar kota. Belum lagi, adatnya pulang dari rumah nenek, malah jadi manja dan berlagak jadi raja, karena sang nenek atau kakek tak berani menolak permintaan cucunya. Apalagi jika  liburan tanpa pendampingan orangtua.

            Tapi bagi orangtua yang kerja kantoran, liburan sekolah memang kadang serba membingungkan dalam pembagian cuti. Ya, kalau liburan hari raya jelas pembagiannya. Kalau Lebaran, yang diutamakan tentu yang Islam. Sementara saat Natal, yang Islam gantian yang kerja. Gimana kalau liburan semesteran? Siapa yang berhak cuti?

            Karyawan memang berhak cuti. Tapi kalau saat liburan suti semua, siapa yang akan menggerakkan roda organisasi. Masak kantor juga ikut semesteran! Ini yang kerap bikin keki. Akhirnya, banyak karyawan yang dulu-duluan mengajukan cuti. Yang dulu, biasanya yang berhasil. Masak sih, harus begitu. Enggak adil dong! Yang belakangan, biasnaya ngedumel.... ye.....

            Mungkin itu juga yang membuat sekarang ini banyak lembaga yang mengadakan liburan bersama. Jadi anak tetap bisa liburan, sementara orang tua tetap bisa kerja seperti biasanya. Banyak produk yang membungkus liburan bersama. Mulai dari kreatif (misalnya anak diajak membuat sesuatu), religi, alam, sain, dll. Jadi orangtua cukup bayar program, beres deh.

             Tapi apa iya kita harus demikian. Liburan sebenarnya menajdi kesempatan kita lebih dekat dengan anak-anak. Kalau saat liburan kita juga menyerahkan anak kita ke orang lain, jadi kapan waktunya kita menangani sendiri anak-anak kita. Tiap hari sudah kita tinggal dan abaikan, eh...pas liburan, anak kita ”ungsikan”. Kasihan....

Posted by CAK KRIS at 04:15:17 | Permanent Link | Comments (0) |

MENCARI CINTA: KAPAN KAWIN?

KONON ada tahapan yang selalu diucapkan wanita terhadap pria yang berusaha mendekatinya. Saat si wanita masih bau kencur, maka jawabnya “Siapa sih kamu!” Ya, cewek seusia remaja memang lagi singit-singitnya. Kebutuhan kasih sayang dari lawan jenisnya masih menjadi nomor ke sekian. Ia lebih doyan ngumpul atau SMS-an dengan gank-nya.

            Setelah masuk SMU atau kuliah tentu jawabannya lain lagi. Bukan lagi, “Siapa sih kamu” tapi “Siapa ya”. Artinya, si ce membuka pintu bagi pria yang mendekatinya. Tapi hanya mengintip sedikit. Jika cocok, pintu (hati) akan dibuka. Jika tidak berkenan, maka segera kunci rapat-rapat. Bagi seorang pria, kesempatan mendekati terbuka. Makanya perlu persiapan, agar kesan pertama bisa menggoda. Setelah berhasil memikat, kunjungan berikutnya tak perlu siasat.

            Yang paling gampang tentu mendekati wanita di atas usia 30 tahun. Apalagi yang sudah dikejar-kejar keluarga agar segera kawin. Jawabannya, bisa jadi ”Siapa saja”. Kriteria pria idaman kerap terabaikan. Status sang pria pun disingkirkan. Yang penting ia segera berubah status menjadi seorang istri.

            Saya yakin tulisan ini pasti banyak yang protes. Padahal ini teori orang gila. Kalau ditangapi, berarti yang nanggapi sama-sama gila. Tapi silakan saja ditanggapi, memang zamane zaman edan.

Posted by CAK KRIS at 03:48:17 | Permanent Link | Comments (0) |

KEJUTAN, YANG FUN AJA DEH!

Kejutan artinya segala sesuatu yang bikin kaget atau sesuatu yang muncul tiba-tiba, tanpa diduga sebelumnya. Ada makna positif, ada juga yang negatif. Yang terakhir ini, misalnya mengejutkan seorang yang jantungan. Wah...itu jelas bahaya dan bisa menimbulkan petaka.

Dulu, saat bulu tangkis Indonesia masih berada di puncak, ada seorang penonton Indonesia yang tiba-tiba meninggal setalah tim Thomas Cup keok di tangan lawan. Begitu juga saat Muhamad Ali tersungkur di atas ring, tiba-tiba tersiar kabar ada penggemarnya yang meninggal. Ah...rupanya hasil pertandingan juga merupakan kejutan.

Anehnya, orang sekarang sangat suka kejutan. Lihatlah, wahana-wahana rekreasi yang membetot nyali banyak bertebaran di mana-mana. Artinya, pasti banyak peminatnya kan. Edannya, kejutan bertaruh nyawa pun banyak yang suka.

Saya pernah menumpang mobil teman yang jika berada di belakang kemudi suka membejek gas mobilnya dalam-dalam.  Meski terpelajar, tapi cara nyopirnya ugal-ugalan. Menyalip dari kiri bukan sesuatu yang tabu. Ah...orang ini memang pantas menjadi pemimpin doa yang handal. Suatu ketika mobil yang kami tumpangi ancang-ancang akan menyalip bus AKAP. Mobil kami sudah menapak marka jalan. Aaaaaa....di depan sebuah sedan juga melaju tak kalah kencang. Dan seisi mobil pun berteriak kegirangan saat sang sopir berusaha menyusup di depan bus.  Cuma saya yang pucat pasi. Pikiran ingat anak, istri dan utang di BRI yang belum lunas. Hanya hitungan detik, mobil sedan pun...wusss melesat cepat.

Kenapa ya orang suka menentang bahaya? Pertanyaan itu yang sampai sekarang belum kutemukan jawabannya. Kalau sekadar menantang maut tanpa tujuan atau hanya sekadar menguji nyali, untuk apa ya? Tapi jika untuk tujuan mulia, menantang maut patut dibanggakan.

 Bikin kejutan itu yang fun-fun saja. Tanpa angin dan hujan tiba-tiba pulang kantor kita mampir di toko mainan. Di bungkus...lalu di letakkan di atas tempat tidur anak. Begitu bangun anak pasti girang dan berusaha mencari ayahnya. Begitu juga ke istri. Bikin kejutan tak harus saat hari istimewa. Mungkin lebih bermakna jika kita lakukan di hari biasa.

Posted by CAK KRIS at 01:40:50 | Permanent Link | Comments (0) |

Jumat, Juni 15, 2007

3 TIPS JADI KAYA *)

Ada tiga cara menjadi kaya.

 

  1. Jadilah anak orang kaya.

Beruntunglah bagi Anda yang menjadi anak orang kaya. Setelah orangtua meninggal, masih menyisakan harta warisan. Yang penting berusaha sekuat tenaga agar harta orangtua tidak habis.

  1. Carilah Suami/Istri Kaya

Kalau suami atau istri, otomatis pasangannya juga ikut kaya. Nah saat kawin jangan mau ada perjanjian pemisahan harta kekayaan. Kalau benar ada Anda bisa cilaka. Kalau cerai Anda akan jadi kere lagi.

  1. Berjuanglah Sendiri Menjadi Kaya

Ini langkah terakhir saat kesempatan pertama dan kedua tak ada lagi. Jadi semua ada di tangan Anda. Cuma hati-hati. Enggak enak lo, jadi orang kaya. (Lagaknya kayak pernah aja jadi orang kaya)

 

*) Tips ini pernah disampaikan saat Seminar Kere Munggah Bale yang dihadiri oleh perwakilan IKI (Ikatan Kere Indonesia), di Silang Monas.

 

Posted by CAK KRIS at 17:54:05 | Permanent Link | Comments (0) |

MAAF TUHAN, KAMI MEREPOTKAN

Hari ini tempat nguli gw kok suasana cerah bangets ya. Sejak pagi senyum bertebaran di penjuru sudut. Candaan renyah disusul suara cekikikan terdengar di mana-mana. Kesimpulannya, O..o... lupa. Ya, kadang suasana hati berbanding lurus dengan isi kantong. Kenapa ya?

Namanya saja manusia, Bung! Ketika lagi punya duit banyak, lihat orang kesandung batu pun bisa jadi bahan ketawaan. Coba kalau sedang tongpes, justru yang ada muncul rasa iba. Jadi apakah harus di-tongpes-in dulu biar hatinya mudah tersentuh. Memang kadang manusia perlu digituin. Lembaran-lembaran ratusan ribu justru kerap jadi ujian. Atau malah jadi sarana menuju kemaksiatan.

Eit...tunggu dulu. Emang kemiskinan menjauhkan dari kemaksiatan. Bukan jaminan. Toh, kejahatan kadang bukan hanya didorong karena ada kesempatan (jadi ingat bang Napi), tapi juga karena keterbatasan. Jadi, apapun kembali ke nurani masing-masing.

Dulu saya pernah bercita-cita sederhana. Setelah nikah, punya rumah tipe 21 dan motor satu. Sarapan dengan tempe goreng sudah lebih dari cukup. Ah ternyata setelah cita-cita terkabul, baru merasakan enggak enak juga jadi orang miskin. Cuma bisa berdoa saat melihat orang yang perlu bantuan. Jadi cita-citanya berubah lagi, pengen jadi orang kaya. Ya, agar bisa membantu jika ada sesasama yang perlu bantuan. Tapi apakah setelah menjadi orang kaya, punya cita-cita atau minimal punya keinginan jadi orang miskin lagi? Bisa jadi.

Ya...namanya juga manusia. Bisanya cuma merepotkan Tuhan.

Posted by CAK KRIS at 17:40:27 | Permanent Link | Comments (0) |

Kamis, Juni 14, 2007

KAMPANYE ZERO BUGET

 

Kampanye selalu diidentikan dengan public figure yang diharapkan bisa menarik massa. Ini memang bukan teknik baru. Udah agak-agak usang. Tengok saja saat partai politik kita masih jumlahnya tiga. Banyak parpol yang mengaet artis atau selebritis. Mereka tentu dibayar parpol. Targetnya jelas, untuk mengumpulkan massa. Makanya saat kampanye, banyak artis yang panen rezeki.

Meski demikian banyak artis yang ogah ikut kampenye. Mereka memilih berdiri netral dengan menampik tawaran dari parpol. Ya, langkah yang mudah agar tidak terlihat seperti artis partisan. Lalu benarkah kalau artis yang menghibur massa kampanye bisa dibilang artis partisan. Kalau menurut saya sih enggak juga. Yang penting jangan mengenakan (kaus, topi, ikat kepala) bergambar parpol atau malah calon kepala daerah/presiden. Kalau dia datang sebagai artis yang nyanyi atau menghibur massa, menurut saya sih sah-sah saja.

Tapi memang susah ya? Apalagi perkembangan sekarang ini, artis sekarang malah melebur ke parpol. Mereka tidak hanya menghibur massa dan menerima honor, tapi menjadi kader, yang akhirnya setelah pengurus tahu kontribusinya bisa dicalonkan menjadi anggota DPR. Jadi jangan heran kalau sekarang banyak artis yang jadi politisi. Dan bagi parpol (baru) tentu ini sangat menguntungkan. Paling tidak, enggak perlu branding lama-lama. Cukup pakai ikon artis terkenal, nama partai pun ikut moncer.

Beda yang dilakukan komunitas B2W (Bike to Work), komunitas pekerja bersepeda di Indonesia. Untuk mengkampanyekan sepeda menjadi alternatif transportasi, Kamis 14, Juni lalu ratusan anggota rela menjemput dan mengawal menristek, Kusmayanto Kadiman, yang mengowes dari rumahnya di Kompleks Menteri Widya Chandra ke kantornya di jl. Tamrin Jakarta. Hebatnya lagi, pak menteri yang mantan Rektor ITB ini memboncengkan Zena, cucunya. Pejabat sebelumnya yang ikut mengowes adalah Andi Malarangen, juru bicara presiden SBY. Bagi Bung AM, begitu anggota komunitas B2W menyapa, ini bukan pertama kali bersepeda dari rumah di Cilangkap ke Bina Graha. Jumat, 24 Nopember 2006, itulah pertama kali Bung Andi B2W. Itu menjadi sejarah yang tak terlupakan. Dengan celana pendek dan bersepeda, gw bisa masuk Bina Graha. Jauh sebelum itu Wakil Gubernur Fauzi Bowo yang sekarang jadi cagub juga kerap melakukan B2W.

Langkah publikasi pengurus B2W memang tepat. Dengan mengajak para pejabat bersepeda, kegiatan persepedaan mereka langsung diliput banyak media. Paling tidak, media yang biasanya ngepos di departemen atau instansi pejabat yang bersangkutan. Yang lebih meguntungkan lagi, karena komunitas ini hanya non politik, tak perlu membayar atau ada imbal balik dengan para pejabat yang ”dimanfaatkan”. Ternyata tanpa merogoh kocek pun publikasi bisa jalan. Yang penting berpikiran cerdas dengan langkah bijak.

catatan: Menurut catatan tempo Interaktif dana kampenye pemilihan presiden dari Calon Mega Hasyim senilai Rp 100 miliar. Itu yang diklaim ke KPU. entah berapa sebenarnya aslinya. 

Posted by CAK KRIS at 09:48:48 | Permanent Link | Comments (0) |

Minggu, Juni 10, 2007

MEMBERANTAS KORUPSI DENGAN SODA API

Ada ide gila. maksudnya idenyaorang gila. Saat lagi membuang cat di frame sepeda dengan soda api, yang begitu mudah ngelotoknya, pikiran gw langsung muncul kenapa tidak dengan cara ini ya, pemerintah memberantas korupsi. Jujur, rasanya negeri ini enggak akan bebas korupsi jika pemberantas masih model begini. Bolehlah ada Kejaksaan, KPK, maupun BPK. Tapi toh, kurupsi masih terus menjamur. Bahkan saat agenda reformasi lagi kenceng-kencengnya disuarakan, tetap saja ada yang ketahuan korupsi. Coba saat rezim mana yang bebas korupsi? Enggak ada kan? itu artinya, dari dulu dampai sekarang tak ada perubahan.

Ya, korupsi memang sudah mendarah daging. Yang bawahan, nguntet uang recehan milik negara, sementara para petinggi negeri ini bisa keceh dengan uang miliaran. Yah, dari mana lagi kalau bukan dari korupsi, wong gajinya saja cuma jutaan dan tidak mendapat warisan usaha dari moyangnya. Jadi korupsi sudah menjadi bagian dari sebuah birokrasi. lalu bagaimana memberantasnya. Ya susuh lah. Wong sudah masuk ke aliran darah.

Makanya kenapa tidak pakai soda api saja. Ya udah, daki-daki negeri ini dimusnahkan saja, lenyap tanpa bekas. Kalau sekadar dipoles, disemir, nanti juga muncul lagi. tak ada sebulan, jamur-jamur pun tumbuh lagi. Kenapa tidak dikerok saja sekalian catnya. Toh besinya masih bisa berguna. Memang langkah ini pasti akan dapat kecaman dan protes di mana-mana. Apalagi dari orang-orang yang mengusung misi tertentu dan ditunggangi entah oleh kusir lokal maupun yang kusirnya menghela dari negeri seberang. Tapi kalau tidak begitu, kapan koropsi akan berhenti.

Soda api memang panas. Tapi mampu merontokkan daki-daki negeri ini.

*) nguntet: mengambil/mengurangi diam-diam
*)Keceh: bermain air

 

Posted by CAK KRIS at 01:48:15 | Permanent Link | Comments (0) |

Kamis, Juni 07, 2007

KOMUNIKASI PAKAI HATI

Apa bisa? Komunikasi paling efektif ya pakai bahasa. Tapi kalau tidak memungkinkan ya pakai isyarat, atau bahasa isyarat. Meski tidak bisu, bahasa ini kerap digunakan. Yang paling mudah adalah menempelkan telunjuk jari di mulut. Tahu kan, maksudnya? Lalu bagaimana komunikasi dengan hati? Pernah mencoba? Cobalah.... saya jamin ada sesuatu yang berbeda. Saya sharing dah pengalaman.

Minggu, 27 Mei lalu saya nganter anak-bini ke Ocean Park. Tempat wisata baru di BSD. Sudah 4 kali anak saya ke wahana air ini. Saya sendiri dari rumah sudah memutuskan untuk tak ikut. "Ayah dah bosen. Jadi nanti ayah drop saja." Benar, saya memang hanya ngedrop. Daripada maen air, mending saya cari buku h ke Gunung agung. Setelah celingak-celinguk, akhirnya memilih buku karya Pak Misbach (membuat skenario film), mencari senar gitar, dan buku tulis. Mau jadi penulis skenario? Ah enggak kepikiran. Cuma penasaran aja. Kebetulan saya pernah ngobrol panjang lebar dengan penulisanya di rumahnya di Sentul, beberapa hari sebelum anak bungsungnya, Sukma Ayu meninggal.

Setelah itu rencananya mau ke Mpok Kafe JPG, nengok teman-teman yang biasanya ngumpul dan gowes di sana. Karena kesiangan, Mpak Kafe dah sepi. Apalagi saat itu anak-anak B2W juga lagi rapat di Bundaran HI untuk ngomongin acara Jakarta Bersepeda 480 yang digelar di Monas, 10 Juni. Karena dah sepi saya pilih pulang aja.

Eh di rumah ada frame sepeda yang habis dicat geletak di teras. Tanpa tanya, saya tahu, itu pasti punya Wawan (tetangga) yang tadi malem komponennya saya pretelin karena framenya mo dicat. Rupanya setelah frame dicat ia tak bisa memasangnya. Tanpa ngomong pun saya tahu maksud si empunya sepeda. Kira-kira dia akan bilang begini, ”Pak tolong pasangan lagi. Saya enggak bisa nih.”

Sebenarnya dalam hati ada perasaan dongkol juga. Eh...ini anak enggak tahu diuntung ya? Udah dibantu nyopotin, sekarang minta dipasangin. Emangnya saya bengkel apa! (Itu kalau mau menang-menangan. Dan saya pasti menang). Tapi kalau barang sudah di teras, mau apa lagi. Dia, kan, sudah memasrahkan pekerjaan ke kita. Artinya, dia sudah percaya, bahwa kita yang bisa menyelesaikan masalahnya. Dan hidup kan, tidak kaku. Kalau memang tidak bisa memasang sekarang, ya dijanjiin aja lain waktu kalau ada waktu. Kalau malas, janjiin aja yang lama biar dia gak sabar dan membawanya ke bengkel. Simpel, kan.

Ah tapi untuk apa dibikin sulit. Toh memasang komponen sepeda tak lama. Paling hanya sejam kelar. Bahkan kalau yang ini, 30 menit juga sudah jadi. Akhirnya, saya pasang aja. Dan klak-klik-kluk, sepeda pun beres dan bisa digowes.

Nah, kembali ke anak bini yang sedang main air. Saya tak ada kesepakatan mo dijemput jam berapa. Saya hanya ngandalin perasaan aja. Sekitar jam 13.30 saya jemput. Ah ternyata, begitu tiba di parkiran, HP Saya langsung berbunyi. ”Dah sampe mana?” kata istri. ”Silakan tengok ke kanan, ha ha ha,” jawabku.

Saya enggak tahu apa ini kebetulan atau komunikasi dalam hati. Tapi yang pasti, aku sempat bilang ke bini. ”Ah..rupanya kita sudah sehati ya. Tanpa janjian, saya sudah tahu kapan harus menjemput.” Dan itu membuatnya tersipu-sipu. Ah...gombalnya keluar juga.

Posted by CAK KRIS at 21:03:46 | Permanent Link | Comments (1) |
1 2