MENGKADALI KOLEKTOR BENDA BERSEJARAH
”Ironi Sebuah Museum”. Itulah tajuk berita di halaman depan Kompas edisi Selasa 20 November. Diberitakan, seorang pria sepuh bernama KRH Darmodipuro (69) terpaksa harus meringkuk di penjara. Kepala Museum Radya Pustaka di Solo ini, ditahan terkait dengan raibnya sejumlah koleksi musem tersebut. Untuk mengelabui pihak-pihak terkait, dibuatlah ”replika” alias tiruannya. Sementara koleksi yang asli dijual dengan harga puluhan juta rupiah.
Modus seperti ini konon bukan barang baru. Maklum banyak permintaan entah kolektor dalam maupun luar negeri akan barang-barang bernilai sejarah. Nah, pihak-pihak yang bersinggungan dengan aset-aset tak ternilai harganya ini akhirnya hatinya goyah akibat iming-iming segepok uang. Ditambah keamanan yang begitu ”longgar’.
Saya jadi teringat cerita teman yang sejak sarjana muda hingga sekarang yang ngurusin benda–benda bersejarah. Dulu ia sering kedatangan tamu yang membawa arca lumutan. Sang tamu minta ”diperiksa” apakah arca yang ”ditemukan” di rumpun bambu itu asli atau arca buatan sekarang. Setelah diperiksa ternyata itu arca buatan pemahat-pemahat muntilan. Arca temuan sang tamu itu sengaja dijejerkan dengan beberapa arca asli yang sedang direstorasi di halaman kantor sang teman. Setelah potret sana-sini, akhirnya sang tamu pamit.
Kejadian itu, kata sang teman, kerap terulang. Ia pun curiga, kenapa banyak orang kerap ”memeriksakan” keaslian acra temuannya. Konon, ada teknik sederhana untuk memeriksa apakah arca itu buatan lama atau baru. Tinggal ”lukai” sedikit arca. Amati ”lukanya” di dalamnya, akan ketahuan batu sekarang atau batu zaman dulu. Kalau sekadar ingin mengetahui, kenapa harus capek-capek membawa arca ke kantor teman saya itu.
Usut punya usut ternyata itu hanya akal bulus. Rupanya, ia sengaja membuat arca menyerupai di candi-candi yang bersejarah itu. Setelah selesai, ia sengaja memblusukkan arca itu beberapa bulan di rerumpunan bambu. Biar kelihatan lumutan dan ”usang”. Setelah itu, pura-pura diperiksakan ke dinas yang berwenang. Sebenarnya tujuan memeriksakan itu hanya untuk memfoto arca itu seakan-akan koleksi kantor teman saya itu. Setelah itu baru dijual dengan harga ”arca yang punya nilai sejarah”. Tentu harganya bisa berlipat-lipat dibanding arca pahatan seniman Muntilan. Cerdik juga ini orang.....
Sebuah narasi di tanyangan infotainment membuat pernyataan yang cukup menusuk. Bagaimana tidak, Roy dianggap lebih bodoh dari keledai yang tak mungkin terperosok dua kali di lubang yang sama. Ya, narasi itu memang benar adanya jika melihat sekilas apa yang dilakukan Roy hingga ia ditangkap polisi untuk kali yang kedua dan untuk urusan sama, narkoba.







Komentar terakhir
pemerintah endonesa itu kayak anak abegeh
klo dlu emang yg tulisan plg bagus mas<