Selasa, November 20, 2007

MENGKADALI KOLEKTOR BENDA BERSEJARAH

Ironi Sebuah Museum”. Itulah tajuk berita di halaman depan Kompas edisi Selasa 20 November.  Diberitakan, seorang pria sepuh bernama KRH Darmodipuro (69) terpaksa harus meringkuk di penjara. Kepala Museum Radya Pustaka di Solo ini, ditahan terkait dengan raibnya sejumlah koleksi musem tersebut. Untuk mengelabui pihak-pihak terkait, dibuatlah ”replika” alias tiruannya. Sementara koleksi yang asli dijual dengan harga puluhan juta rupiah. 

Modus seperti ini konon bukan barang baru. Maklum banyak permintaan entah kolektor dalam maupun luar negeri akan barang-barang bernilai sejarah. Nah, pihak-pihak yang bersinggungan dengan aset-aset tak ternilai harganya ini akhirnya hatinya goyah akibat iming-iming segepok uang. Ditambah keamanan yang begitu ”longgar’.

Saya jadi teringat cerita teman yang sejak sarjana muda hingga sekarang yang ngurusin benda–benda bersejarah. Dulu ia sering kedatangan tamu yang membawa arca lumutan. Sang tamu minta ”diperiksa” apakah arca yang ”ditemukan” di rumpun bambu itu asli atau arca buatan sekarang. Setelah diperiksa ternyata itu arca buatan pemahat-pemahat muntilan. Arca temuan sang tamu itu sengaja dijejerkan dengan beberapa arca asli yang sedang direstorasi di halaman kantor sang teman. Setelah potret sana-sini, akhirnya sang tamu pamit.

Kejadian itu, kata sang teman, kerap terulang. Ia pun curiga, kenapa banyak orang kerap ”memeriksakan” keaslian acra temuannya. Konon, ada teknik sederhana untuk memeriksa apakah arca itu buatan lama atau baru. Tinggal ”lukai” sedikit arca. Amati ”lukanya” di dalamnya, akan ketahuan batu sekarang atau batu zaman dulu. Kalau sekadar ingin mengetahui, kenapa harus capek-capek membawa arca ke kantor teman saya itu.

Usut punya usut ternyata itu hanya akal bulus. Rupanya, ia sengaja membuat arca menyerupai di candi-candi yang bersejarah itu. Setelah selesai, ia sengaja memblusukkan arca itu beberapa bulan di rerumpunan bambu. Biar kelihatan lumutan dan ”usang”. Setelah itu, pura-pura diperiksakan ke dinas yang berwenang. Sebenarnya tujuan memeriksakan itu hanya untuk memfoto arca itu seakan-akan koleksi kantor teman saya itu. Setelah itu baru dijual dengan harga ”arca yang punya nilai sejarah”. Tentu harganya bisa berlipat-lipat dibanding arca pahatan seniman Muntilan.  Cerdik juga ini orang.....

Posted by CAK KRIS at 14:41:20 | Permanent Link | Comments (0) |

Roy Marten, Pantaskah Dihukum Berat?

Dua kali Roy ditangkap polisi untuk urusan yang sama. Apa yang sebaiknya dilakukan keluarga?
Sebuah narasi di tanyangan infotainment membuat pernyataan yang cukup menusuk. Bagaimana tidak, Roy dianggap lebih bodoh dari keledai yang tak mungkin terperosok dua kali di lubang yang sama. Ya, narasi itu memang benar adanya jika melihat sekilas apa yang dilakukan Roy hingga ia ditangkap polisi untuk kali yang kedua dan untuk urusan sama, narkoba.
Tertangkapnya Roy di Surabaya ini memang sebuah kebodohan. Rupanya penjara 9 bulan belum cukup membuatnya jera. Ketenaran, nama baik dan keluarga yang bahagia tergandaikan hanya demi bubuk shabu-shabu yang hanya membuatnya nikmat sesaat. Tak heran, setelah penangkapan Roy yang kedua ini, muncul beragam pendapat di masyarakat. Salah satunya, perlunya hukuman berat bagi Roy?
Hukuman berat ini bertujuan agar Roy jera dan akhirnya bisa menjahui narkoba dan kembali menjalani kehidupannya dengan normal. Apalagi, kali ini Roy ditangkap bersama bandar dan barbuk-nya pun bukan ukuran gram lagi, tetapi sudah mendekati 2 ons. Itu memang jika melihat dari kacamata umum. Bagaimana jika kita melihat ini dari sisi Roy yang kelihatannya belum bisa lepas dari jeratan narkoba?
Pergaulan Roy dengan bandar yang sama-sama ditangkap di Surabaya menjadi indikasi bahwa aktor asal Salatiga ini belum bisa lepas dari shabu-shabu. Entah sebagai pemakai atau malah menjadi pengedar. Jika kita asumsikan Roy (masih) sebagai pemakai, ada yang lebih penting lagi yang harus dilakukan oleh Roy maupun keluarganya dibanding memikirkan hukuman apa yang pantas dijatuhkan untuk Roy. Apa itu? Yaitu upaya penyembuhan agar Roy bisa lepas dari ketergantungan narkoba.
Sebelum dia bisa lepas, rasanya hukuman seberat apapun tak akan membuat kehidupan Roy menjadi bermakna lagi. Jadi upaya Roy dan keluarganya sebaiknya tak hanya mengupanyakan agar Roy kelak mendapat hukuman yang ringan. Yang lebih penting adalah bagaimana mengupayakan agar Roy menjadi bersih dan tak tergoda lagi menjadi pemakai narkoba. Jika hanya yang pertama dilakukan, itu ”penyembuhan” sesaat dan ada kemungkinan akan terjadi penangkapan ketiga, keempat dan seterusnya.

*) Pengen raasnya bisa lepas dari jeratan rokok! Tapi belum bisa-bisa. Untung merokok bukan tindak pidana dan (masih) dihalal-kan.
Posted by CAK KRIS at 12:01:59 | Permanent Link | Comments (0) |

Rabu, November 14, 2007

Yang Tercecer dari Aksi Hijau Senayan (3)

SIAPA YANG MAU MENYUSUL HONDA?
Gila lo ya? Bikin funbike gratis! Nombok berapa lo?
Itu SMS yang masuk ke HP gw. Dari temen yang suka sepedaan. Jawaban gw, sih juga singkat. ”Nombok Kathok dan gw sampai sekarang masih waras!”  Gw memang tidak nombok apa-apa. Malah bathi, alias untung. Dapat kaos dan makanan. Selebihnya enggak keluar apa-apa. Kecuali menyisihkan waktu beberapa saat untuk rapat persiapan. Itu pun sekalian ngumpul dengan teman-teman untuk cela-celaan.
Ya, Aksi Hijau Senayan (AHS) memang dari sekian acara funbike yang gratis. Ini empat kali saya mengikuti funbike atau ”kampanye” sepeda, yang dapat gratis makan dan kaos. Pengalaman pertama, saat ikut B2W day di Monas, tahun 2006. Acara kedua, Jakarta Bersepeda. Kala itu saya malah ikut membantu panitia. Acara yang dihadiri oleh Bang Foke dan Andi Malarangeng dan diadakan di Monas bebarengan dengan acara yang diadakan PKS. Maklum saat itu lagi kampenye pilkada. Yang ketiga adalah B2W day. Ketiga acara ini diprakarsai oleh B2W. Dan yang terakhir adalah Aksi Hijau Senayan.
    Soal dari mana biaya itu, saya kurang paham. Tapi besar kemungkinan pasti dari sponsor, seperti yang tercantum di kaos. Kalau tidak, dermawan mana yang mau nombok.

Di acara Aksi Hijau Senayan ini saya juga tidak tahu siapa yang mengeluarkan biaya. Pastinya dari sponsor, salah staunya adalah Honda. Mudah-mudahan, sih, banyak sponsor yang mau membiayai acara sepeda atau funbike. Ayo siapa mau menyusul Honda?
Posted by CAK KRIS at 19:24:15 | Permanent Link | Comments (0) |

Selasa, November 13, 2007

Yang Tercecer dari Aksi Hijau Senayan (2)

”GUGATAN” UNTUK PERAIH DOORPRIZE UTAMA

”Huh... yang dapat kok, malah peserta komunitas motor,” gerutu salah seorang peserta.

Ya, sepeda Giant Anthem yang menjadi impian semua peserta Aksi Hijau Senayan, akhirnya jatuh ke salah seorang peserta dari komunitas Honda Vario. Begitu sepeda diserahkan, prai beruntung itu langsung menjajal si "Gianto" di depan panggung. Rekan-rekan se-klub juga turut bergembira dan berfoto bersama.
Tapi ada juga yang enggak rela, si Gianto, jatuh ke tangan klub motor. Harusnya ke tangan peserta yang sudah menyepeda. Seperti gerutu di atas. Tapi yang namanya rezeki, milik, siapa sih yang tahu? Jadi, aneh, jika ada yang tak rela.
Bagi saya, siapapun yang mendapat durian runtuh itu , rela-rela saja (Gimana tak rela, wong panitia enggak dapat jatah kupon). Justru mungkin ada nilai positifnya, sepeda seharga Rp 9 juta lebih itu jatuh ke tangan anggota komunitas motor. Siapa tahu, setelah mendapat hadiah itu, si pemenang jadi doyan bersepeda. Dan akhirnya, kemana-mana naik sepeda. Terus kalau sudah ketagihan, ajak-ajak teman klub-nya. Jadi komunitas sepeda makin banyak dan ngremboko. Selamat deh, Bro. Jangan lupa, sepedanya dipakai ya? Kalau sudah bosen, bilang ke kita-kita ya? :)) Foto: nining-KCC

Posted by CAK KRIS at 17:13:07 | Permanent Link | Comments (2) |

Yang Tercecer dari Aksi Hijau Senayan (1)

JATAH MAKAN SIANG PANITIA ”DIJARAH”
Sebagian panitia terpaksa gigit jari. Jatah makan siang ludes ”dijarah” peserta. Kenapa bisa begitu?

Pesta Aksi Hijau Senayan (AHS) telah usai. Panitia bisa bernapas lega karena acara fun bike dan penanaman 1000 pohon di area Gelora Bung Karno ini berjalan sesuai rencana. Apalagi target peserta juga terpenuhi. Dari catatan panitia, sekitar 2200 peserta mengikuti acara ini. Dan yang menggembirakan, aksi yang diprakarsai Kompas Gramedia ini banyak mendapat liputan media massa.
Tapi tiada gading yang tak retak. Setelah Ata, mengumumkan doorprize utama dan peserta mulai meninggalkan arena, tiba-tiba di tenda konsumsi terjadi hiruk pikuk. Rupanya para peserta ”menjarah” jatah makan siang panitia dan paket konsumsi yang tersisa.
Bahkan menurut kesaksian teman, cangkul dan skop yang dipakai untuk menanam pohon pun ikut diangkut.
Pemandangan itu membuat gw miris. Luapan kebahagiaan yang sudah nyaris meledak di puncak, karena acara berjalan sesuai rencana, tiba-tiba lumer. Jujur saya mengelus dada dan bertanya-tanya. Kenapa mereka bisa bertindak anarkis begitu? Inikah miniatur mentalitas bangsa kita? Saya enggak berani menjawabnya.
Saya bertanya-tanya, apa sih kurangnya panitia. Sudah diberi kaos yang secara kualitas bagus. Bukan kaos gratis kelas kampanye. Snack box yang dibagikan isinya sangat memadai. Lebih dari cukup untuk menganjal perut ukuran orang dewasa. Bahkan dilengkapi dengan buah jeruk segala. Peserta juga punya kesmepatan meraih beragam hadiah. Kenapa, kok, masih mejarah?
Mungkin karena ada kesempatan. Penjagaan tenda konsumsi memang agak longgar, ketika semua peserta sudah kebagian. Bahkan, beberapa peserta yang minta jatah snack box masih diberi. Sementara untuk kotak makan siang ditolak karena memang hanya untuk panitia. Akhirnya sifat jelek manusia pun muncul. Ya, ibarat diberi segunung emas, ia pasti akan minta gunung yang lain. Saya jadi ingat pesan Bang NAPI. Kira-kira bunya begini: Waspadalah! Waspadalah. Kejahatan bisa karena ada kesempatan!
Posted by CAK KRIS at 15:41:21 | Permanent Link | Comments (3) |

Kamis, November 08, 2007

BETRIK MULAI DILIRIK

Betrik alias bebek listrik atau umumnya motor listrik belakangan ini satu dua mulai berseliweran di jalan raya. Alat transportasi yang biasanya hanya dipakai di wilayah terbatas, mulai merambah jalan raya. Bisa jadi kekuatan baterai bebek tanpa suara ini makin hari makin digdaya. Bahkan baterai betrik keluaran Wimcycelyang diberi nama Zero 9 ini mampu menempuh perjalanan sepanjang 100 km. Artinya, kendaraan ramah lingkungan ini bisa menjadi alternatif kendaraan ke kantor atau sekolah. Apalagi kecepatan maksimum diklaim bisa tembus 60 km/jam. Untuk ukuran lalu lintas Jakarta, yang belakangan ini macetnya ampun-ampunan, tentu lebih dari cukup.
Memang selama ini alasan takut kehabisan baterai yang menjadi kendala orang segan membeli kendaraan yang bisa dikayuh ini. Tapi jika produsen terus mengembangkan kekuatan baterainya, ada peluang besar, jenis kendaraan ini akan menjadi alternatif pilihan disamping beksin, bebek bermesin. Dan itu rasanya bukan mustahil. Tengok saja, kekuatan baterai polsel produk dulu.
Paling banter 2 hari, sudah harus ngisi. Sekarang, kekuatannya bisa berlipat-lipat. Memang tidak semua karena pengaruh kekuatan baterai saja, makin banyaknya BTS juga ikut memperirit konsumsi baterai.
Produsen betrik juga makin banyak. Sebelum Wimcycle, sudah ada merk Betrix yang mengelinding di Indonesia. Perusahaan yang mengusung jargon Kendaraan Listrik No 1 di Indonesia ini juga punya banyak produk yang bisa dipilih. Ada juga Trekko, Molis,
Xelimo . Dengan makin banyaknya produk membanjiri pasar, tentu menjadi indikasi, bahwa produk ini diminati.Komunitas betrik juga sudah terbentuk. Jika berniat bergabunglah di yahoogroup. Komuntas pemakai dan calon pemakai betrik bergabung di wadah milis [motorListrik]
Apalagi dengan makin maraknya kampanye global warming dan meroketnya harga minyak. Mungkin, 5 tahun lagi kendaraan ini menjadi pilihan utama. Jadi siapkan colokan listrik di garasi Anda.
Posted by CAK KRIS at 14:24:28 | Permanent Link | Comments (1) |

Rabu, November 07, 2007

AKSI HIJAU SENAYAN - B 217 AN

-KGC, Komunitas Karyawan pecinta sepeda di Kompas Gramedia, punya gawe lagi. Sukses dengan gelaran Mangrove Chalanger 07, gelaran kedua adalah Aksi Hijau Senayan..

Aksi Hijau Senayan (AHS) punya dua tujuan. Pertama tentu, KGC atau paling tidak orang-orang yang membiayai acara ini berharap sepeda bisa menjadi alternatif sarana transportasi. Seperti kampanye yang dilakukan oleh komunitas B2W. Komunitas ini memang yang mencetuskan sepeda sebagai sarana transportasi ke tempat kerja. Kedua, karena acara ini juga diisi dengan menanam pohon, maka pelestarian alam tetap jadi tujuan utama. Pengabungan dua kegiatan ini memang tepat karena tujuannya tetap sama., pencegahan global warming. kampanye yang sekarang sedang digembor-gemborkan, tapi belum banyak langkah nyata.

Karena AHS ini sifatnya kampanye, maka pihak panitia sengaja tak mau membebani peserta. Bahkan, mungkin ini yang pertama kali sebuah fun bike berskala besar diselenggarakan gratis!(mohon dikoreksi jika tulisan ini salah) Padahal seperti layaknya sebuah fun bike. Peserta akan mendapatkan kaos, snack, dan berpeluang mendapat doorprize, sebuah sepeda senilai 10 juta!
Memang pada saat yang sama, ada acara Bicycle For Earth Goes To Bali 2007
yang acaranya digagas oleh B2W. Bahkan di hari yang sama Trans Bike, komunitas sepeda di Trans TV dan Trans TV juga menggelar acara sepeda. Tapi rupanya teman-teman panitia tak gentar. KGC tak menganggap acara B2W sebagai saingan. Begitu juga acara di Trans Bike. Kenapa saingan kalau tujuannya sama. Mari sama-sama untuk meyelamatkan bumi. Jadi inget istilah tempo dulu yang masih sering ditulis di bak truk. Berdua satu tujuan ditulis B 217 AN.

Posted by CAK KRIS at 13:41:41 | Permanent Link | Comments (0) |