BUKA PUASA NONTON TV
Hari ini saya terpaksa menyalakan teve setelah 10 hari orang serumah puasa nonton teve. Teve di rumah memang sempat saya matikan. Tak ada yang bisa menghidupkan teve, baik yang di ruang keluarga maupun di kamar. Semua mati! Semua itu gara-gara si Mas yang mendadak susah bangun pagi dan kerap ngambek di sekolah, saya terpaksa mematikan semua teve. Penyebabnya apalagi kalau bukan kekenyangan nonton teve hingga semua tugas, entah pribadi maupun sekolah terabaikan. Saya pun “marah” dan membuat surat “hukuman” teve dimatikan sampai batas tak ditentukan.
Ternyata mas tenang-tenang saja. Meski di hari pertama, dia sempat membalas surat saya yang isinya minta teve dinyalakan. Hari kedua, mulai terbiasa. Bahkan mulai bisa tidur siang. Hal yang enggak mungkin dilakukan jika acara nonton teve saya bebaskan. Hari itu juga si Mas mulai ngorek-ngerek koleksi buku-bukunya. Emaknya sempat senang dan ndukung agar “hukuman” saya lanjutkan. Si Mas, kata emaknya juga makin lancar membaca. Bahkan satu kalimat dengan enam kata sudah bisa dibaca tanpa eja.
Dia juga rajin sepedaan tiap sore. Tidurnya juga tak lewat dari jam 20, meski siangnya sempat tidur. Bahkan PR tak lagi lalai dikerjakan. Ah…kok efeknya hebat banget ya? Saya pun memberi hadiah robot gundam dengan kemajuan ini. Saya juga tak mengutak-utik lagi soal teve. Dan si Mas pun tak lagi ada tuntutan menghidupkan teve. Setelah sepuluh hari, justru saya yang berpikir. Apa iya, saya akan membutakan anak saya dengan teve. Jangan-jangan nanti jadi anak kuper.
Akhirnya, saya bikin kesepakatan dengan si Mas. Bagaimana jika teve dinyalakan, tapi hanya Sabtu dan Minggu. “Oke, boleh yah…” Ini kesepakatan laki-laki, kata saya. Dia pun paham apa konsekuansinya. Jika dilanggar, teve mati selamanya. Dia pun mengusulkan, teve hidup saat Sabtu pagi (sejak ia bangun tidur) dan akan mati Minggu sore jam 5. Kami pun toss! Setuju!
Gambar diambil dari www.carbone14.be
*) Sori Mas, kemarin ayah agak keras!