Wednesday, July 18, 2007

PERSOALAN DI ATAS PERMASALAHAN PENGANGGURAN

Pantaslah jika angka penganguran di Indonesia tak sesuai kenyataan. Mangsute yang tercatat oleh pemerintah, jauh lebih kecil dibanding realita di masyarakat. Bagi warga Kabupaten Tangerang, bisa melihat Formulir Isian Biodata Penduduk yang dikeluarkan oleh Kabupaten Tangerang, Banten dan telah disebar di bulan ini ke warga. Pengangguran tak ada di daftar profesi atau pekerjaan. Bahkan warga tak punya pilihan mengisi profesi, karena semua daftar pekerjaan atau profesi sudah tercantum dalam daftar tersebut. Jadi, bagi para pengangguran, tak ada tempat di Kabupaten Tangerang. Bisa-bisa kelak, laporan ke pemerintah pusat Kabupaten Tangerang pengganguran 0 persen. Kalau nanti pemerintah pusat mengamini data itu, bisa jadi Pemda Kab. Tangerang akan segera membuat program besar-besaran, membuat tulisan gede-gede, TANGERANG BEBAS PENGANGGURAN! Bahkan di genteng warga wajib ditulis TBP. Ah…jadi ingat tulisan B3B (Bebas 3 Buta) di genteng-genteng rumah di kampung dulu. Meski masih banyak warganya yang belum melek huruf tapi di gentengnya tertulis B3B. Mereka bukan karena bisa tulis, baca dan paham ilmu pengentahuan dasar. Tapi di rumah itu bebas, buta cakil, buta terong, dan buta rambut geni. Hi…hi…hi…. Tapi saya sih, bersyukur Alhamdulillah kalau itu memang sesuai kenyataan.

Ada 88 jenis pekerjaan yang boleh dipilih oleh warga. Salah satunya, Imam Masjid. Ya, profesi ini bisa menjadi bahan diskusi setengah hari. Benarkah seseorang kepala rumah tangga bisa mengandalkan kehidupannya menjadi imam masjid? Pertanyaan berikutnya, apakah semua imam masjid di Kabupaten Tangerang mendapat gaji dari Pemerintah dalam hal ini Departeman Agama?  Kalau sekadar pemberian sumbangan atau honor tidak tetap (yang tidak turun tiap bulan), saya pernah mendengarnya. Marbot alias penjaga masjid kompleks saya tinggal, pernah sekali mendapatkan uang bantuan dari Depag saat lebaran beberapa tahun lalu. Besarnya tak lebih dari Rp 300 ribu. Saya jadi berpikir, dengan dicantumkannya imam masjid menjadi sebuah profesi, jangan-jangan memang ada ya, honor atau dana dari Departeman Agama. Kalau ada lalu alirannya ke mana?

Tentu ini beda jika dibandingkan dengan imam masjid Istiqlal atau Pondok Indah. Pengurus masjid tentu mampu menggaji imamnya, karena masjid-masjid ini banyak mendapat pemasukan. Entah dari infaq, usaha, atau dari donator tetap. Lalu kalau masjid kampung atau kompleks, pemasukan dari mana? Untuk bayar listrik dan penjaganya saja sudah kembang kempis. Bahkan honor penceramah dan imam Jumatan saja tak bisa ditutup dengan uang infaq. Artinya, untuk operasional sehari-hari saja kerap tekor.

Yang unik lagi ada pilihan profesi sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Sejak kapan sih, SBY dan Kalla, tinggal di Tangerang?  Dan bagi para peraji, paranormal, tabib, tukang besi, tukang cukur (termasuk para pekerja di salon, tentunya) tak perlu rendah diri. Karena profesi ini juga sudah diakui, meski belum masuk dalam KTP.

Saya enggak bisa menganalisa, apa maksud pembuat daftar isian ini memberikan pilihan profesi yang tertutup. Mungkin, untuk memudahkan dalam meng-entry data. Kalau sekadar memudahkan tapi tak sesuai kenyataan untuk apa? Padahal soal pengangguran menjadi masalah besar di negeri ini. Kalau pemerintah menutup mata, kapan masalah ini bakal selesai? Inilah persoalan di atas persoalan pengangguran. Kerja pun jadi ganda! 

Posted by CAK KRIS in 15:06:03 | Permalink | No Comments »