PENGUNGSIAN SAAT LIBURAN
SEBENTAR lagi liburan. Enak bagi si anak, sengsara bagi orangtua. Sengsara karena harus menyiapkan buget untuk liburan. Setelah libur, uang lagi untuk keperluan sekolah. Liburan ke rumah nenek saja? Mahal dong harus ke luar kota. Belum lagi, adatnya pulang dari rumah nenek, malah jadi manja dan berlagak jadi raja, karena sang nenek atau kakek tak berani menolak permintaan cucunya. Apalagi jika liburan tanpa pendampingan orangtua.
Tapi bagi orangtua yang kerja kantoran, liburan sekolah memang kadang serba membingungkan dalam pembagian cuti. Ya, kalau liburan hari raya jelas pembagiannya. Kalau Lebaran, yang diutamakan tentu yang Islam. Sementara saat Natal, yang Islam gantian yang kerja. Gimana kalau liburan semesteran? Siapa yang berhak cuti?
Karyawan memang berhak cuti. Tapi kalau saat liburan suti semua, siapa yang akan menggerakkan roda organisasi. Masak kantor juga ikut semesteran! Ini yang kerap bikin keki. Akhirnya, banyak karyawan yang dulu-duluan mengajukan cuti. Yang dulu, biasanya yang berhasil. Masak sih, harus begitu. Enggak adil dong! Yang belakangan, biasnaya ngedumel…. ye…..
Mungkin itu juga yang membuat sekarang ini banyak lembaga yang mengadakan liburan bersama. Jadi anak tetap bisa liburan, sementara orang tua tetap bisa kerja seperti biasanya. Banyak produk yang membungkus liburan bersama. Mulai dari kreatif (misalnya anak diajak membuat sesuatu), religi, alam, sain, dll. Jadi orangtua cukup bayar program, beres deh.
Tapi apa iya kita harus demikian. Liburan sebenarnya menajdi kesempatan kita lebih dekat dengan anak-anak. Kalau saat liburan kita juga menyerahkan anak kita ke orang lain, jadi kapan waktunya kita menangani sendiri anak-anak kita. Tiap hari sudah kita tinggal dan abaikan, eh…pas liburan, anak kita ”ungsikan”. Kasihan….