KOMUNIKASI PAKAI HATI
Apa bisa? Komunikasi paling efektif ya pakai bahasa. Tapi kalau tidak memungkinkan ya pakai isyarat, atau bahasa isyarat. Meski tidak bisu, bahasa ini kerap digunakan. Yang paling mudah adalah menempelkan telunjuk jari di mulut. Tahu kan, maksudnya? Lalu bagaimana komunikasi dengan hati? Pernah mencoba? Cobalah…. saya jamin ada sesuatu yang berbeda. Saya sharing dah pengalaman.
Minggu, 27 Mei lalu saya nganter anak-bini ke Ocean Park. Tempat wisata baru di BSD. Sudah 4 kali anak saya ke wahana air ini. Saya sendiri dari rumah sudah memutuskan untuk tak ikut. “Ayah dah bosen. Jadi nanti ayah drop saja.” Benar, saya memang hanya ngedrop. Daripada maen air, mending saya cari buku h ke Gunung agung. Setelah celingak-celinguk, akhirnya memilih buku karya Pak Misbach (membuat skenario film), mencari senar gitar, dan buku tulis. Mau jadi penulis skenario? Ah enggak kepikiran. Cuma penasaran aja. Kebetulan saya pernah ngobrol panjang lebar dengan penulisanya di rumahnya di Sentul, beberapa hari sebelum anak bungsungnya, Sukma Ayu meninggal.
Setelah itu rencananya mau ke Mpok Kafe JPG, nengok teman-teman yang biasanya ngumpul dan gowes di sana. Karena kesiangan, Mpak Kafe dah sepi. Apalagi saat itu anak-anak B2W juga lagi rapat di Bundaran HI untuk ngomongin acara Jakarta Bersepeda 480 yang digelar di Monas, 10 Juni. Karena dah sepi saya pilih pulang aja.
Eh di rumah ada frame sepeda yang habis dicat geletak di teras. Tanpa tanya, saya tahu, itu pasti punya Wawan (tetangga) yang tadi malem komponennya saya pretelin karena framenya mo dicat. Rupanya setelah frame dicat ia tak bisa memasangnya. Tanpa ngomong pun saya tahu maksud si empunya sepeda. Kira-kira dia akan bilang begini, ”Pak tolong pasangan lagi. Saya enggak bisa nih.”
Sebenarnya dalam hati ada perasaan dongkol juga. Eh…ini anak enggak tahu diuntung ya? Udah dibantu nyopotin, sekarang minta dipasangin. Emangnya saya bengkel apa! (Itu kalau mau menang-menangan. Dan saya pasti menang). Tapi kalau barang sudah di teras, mau apa lagi. Dia, kan, sudah memasrahkan pekerjaan ke kita. Artinya, dia sudah percaya, bahwa kita yang bisa menyelesaikan masalahnya. Dan hidup kan, tidak kaku. Kalau memang tidak bisa memasang sekarang, ya dijanjiin aja lain waktu kalau ada waktu. Kalau malas, janjiin aja yang lama biar dia gak sabar dan membawanya ke bengkel. Simpel, kan.
Ah tapi untuk apa dibikin sulit. Toh memasang komponen sepeda tak lama. Paling hanya sejam kelar. Bahkan kalau yang ini, 30 menit juga sudah jadi. Akhirnya, saya pasang aja. Dan klak-klik-kluk, sepeda pun beres dan bisa digowes.
Nah, kembali ke anak bini yang sedang main air. Saya tak ada kesepakatan mo dijemput jam berapa. Saya hanya ngandalin perasaan aja. Sekitar jam 13.30 saya jemput. Ah ternyata, begitu tiba di parkiran, HP Saya langsung berbunyi. ”Dah sampe mana?” kata istri. ”Silakan tengok ke kanan, ha ha ha,” jawabku.
Saya enggak tahu apa ini kebetulan atau komunikasi dalam hati. Tapi yang pasti, aku sempat bilang ke bini. ”Ah..rupanya kita sudah sehati ya. Tanpa janjian, saya sudah tahu kapan harus menjemput.” Dan itu membuatnya tersipu-sipu. Ah…gombalnya keluar juga.